↻ Lama baca < 1 menit ↬

Persepsi tentang minyak samin dan wong Samin

Tentang kata “samin”, setidaknya ada dua hal memalukan dalam diri saya. Pertama soal minyak samin. Kedua ihwal masyarakat Samin atau sedulur sikep.

Sejak kecil saya tahu ada minyak samin tapi tak paham itu apa. Ibu saya tak pernah menggunakan. Setelah saya berumah tangga, di dapur setahu saya tak ada minyak samin. Saya hanya tahu penjual martabak menggunakan itu.

Lalu di mana dan kapan soal memalukan itu? Di Indomaret, tadi malam. Saya iseng memotretnya, tak tahu untuk apa. Pagi ini saya jadikan posting setelah mencari tahu minyak samin — untunglah foto belum saya hapus. Sila lihat Wikipedia, dan juga Halo Sehat yang artikelnya direviu oleh dokter. Sebagai lemak dia memperlezat makanan dan berguna bagi tubuh.

Kalau tentang masyarakat Samin, sekian lama saya terperangkap dalam prasangka, tak beda dari rasisme, sehingga dulu pernah ikut menyebut orang yang lugu, jujur, lugas, dan kadang naif, sebagai “samin”. Itu karena informasi tentang masyarakat Samin yang sampai ke benak saya, termasuk dari guru sekolah, adalah keluguan dan kenaifan. Padahal bukan (¬ sila lihat Wikipedia, untuk pintu pemahaman ke sumber lain).

Setelah meninggalkan masa remaja, dan bergaul lebih luas, dengan tambahan informasi yang genah, saya tinggalkan rasisme itu. Maafkan saya, saudaraku.