↻ Lama baca < 1 menit ↬

Bu Sri Sukatanya datang ke rumah Kamsi, minta advis ponsel yang tepat, harga tiga jutaan rupiah, untuk mengganti ponsel sekarang yang menurutnya berat, “Soalnya udah empat tahun.”

Kamsi mengoper masalah kepada suaminya, “Tuh Mas, bantuin Bu Sri.” Lalu Bu Sri mengulangi cerita.

“Nggak usah ganti, Bu. Kan masih berfungsi? Bisa buat nelepon, WA, dan lainnya?” sahut Kamso.

Mereka bertiga ngobrol, dengan satu kesimpulan dalam ponsel Bu Sri ada terlalu banyak gambar dan video. Untuk gambar, paling banyak setelah dari grup WhatsApp adalah foto jepretan sendiri.

“Kalo Jeng Kamsi gimana ngatasi itu?”

“Saya pake clear chat, Bu.”

“Kalo Mas Kamso?”

“Saya pake galeri, pilih folder WhatsApp Images dan WhatsApp Videos, select all, lalu hapus.”

“Nggak sayang?” tanya Bu Sri.

“Dia kalo malem menghapus semua gambar dan video, Bu. Kadang tanpa melihat itu gambar dan video dari grup apa atau siapa, langsung hapus, lalu clear cache. Katanya, halah orang-orang pada forward aja kok. Kalo untuk foto bikinan sendiri, yang emang penting dia simpan di Google, lalu sisanya dia hapus,” kata Kamsi.

“Nggak sayang, Mas?”

“Saya lebih sayang hape saya, lagi pula saya nggak ada waktu ngeliat semua arsip nggak penting, Bu. Entar semua orang pake fitur kirim gambar japri cuma bisa diliat sekali.”

“Nggak sayang, Mas?”