↻ Lama baca < 1 menit ↬

Kasus prostitusi Cassandra Angelie

“Kenapa ya Pak, ada aja artis nyambi?” tanya Pardi Pacé sambil membenahi alat, usai memperbaiki talang.

“Lha kan lumrah? Ada yang bikin roti, bikin acara di YouTube, punya rumah makan. Sampean nyambi jaga malam, Mas,” sahut Kamso.

“Halah, menghindar. Itu lho artis sinetron kayak si siapa itu yang ketangkep di hotel, Pak,” sambil menyampaikan sinopsis versinya. Kamso cuma menanggapi, “Ya jangan bilang banyak kalo sampean cuma nyebut tiga. Pelakunya lebih banyak yang bukan artis.”

“Ya udah kalo nggak banyak. Jadi masalahnya apa, Pak?”

“Lha tadi sampean bilang bayaran, sampe tiga puluh juta,” kata Kamso.

Pardi terus ngoceh, dengan penutup, “Menurut Pak Kamso gimana?”

“Berlebihan kalo misalnya Cassandra ditangkap polisi. Untunglah nggak. Tapi wajib lapor pun berlebihan. Menurut hukum, yang bisa ditangkap cuma germonya aja. Konsumen juga nggak bisa. Kalo masalahnya zina, salah satu pelaku harus punya suami atau istri, tapi hanya bisa diperkarakan kalo pasangannya lapor polisi.”

“Kalo soal porno, kan si cewek jualan di online?”

“Setahu saya dia nggak dagang di medsos, fotonya pun biasa aja.”

“Berarti kita biarin aja cewek jual diri?”

“Kalo nggak di pinggir jalan bikin macet ya biarin aja. Kan nggak ada yang dirugikan?”

“Mereka itu tau kalo itu nggak bagus, kan?”

“Semua orang tahu, makanya para pemain nggak pernah ngaku terang-terangan apalagi kepada keluarga terutama anak. Mereka juga nggak pengin anak perempuannya nanti begitu.”