↻ Lama baca < 1 menit ↬

Kursi anak kecil milik si bungsu di kamar si sulung

Saat membersihkan kamar kosong karena penghuninya sedang memilih hidup di luar rumah, mataku menatap kursi kecil yang alas duduknya setinggi keranjang sampah. Kursi anak. Anak kecil. Anak yang lebih belia. Sekarang si pemilik sudah besar. Sudah dewasa. Tapi dia sudah kembali tinggal di rumah setelah pandemi dan kerja secara virtual.

Anak-anak terus bertumbuh. Terus berubah. Orangtuanya juga. Komunikasi sesama penghuni rumah juga.

Memperlakukan anak tentu sesuai tahapan usianya. Bagiku waktu mereka kecil, mereka itu bukan orang dewasa dalam fisik mini. Tetapi mereka juga bukan manusia yang terus menjadi balita.

Saat SD pun mereka tumbuh cepat, rentang enam tahun mengubah banyak hal. Ketika anak masih SD dan saat berteleponan berulang kali mengucapkan “anjir” tentu perlu ditegur halus dan dijelaskan. Bukan langsung menghardikkan kata jangan. Setelah anak dewasa, ketika berteleponan atau video call di kamar terdengar “shit” dan “f*ck“, orangtua hanya mengingatkan anak saat di rumah bapak ibunya sebaiknya tak mengucapkan itu. Mereka sudah dewasa.

Anak terus berubah seiring perjalanan masa. Ada, tentu, sisi yang tetap melekat. Bukanlah orang tua dan orangtua juga berubah? Sehingga komunikasi dan cara menyelesaikan konflik suami dan istri, bapak dan ibu, juga terus menyesuaikan diri. Letupan demi letupan, kadang disertai bara, pada awal perkawinan adalah sejarah proses belajar setiap pasangan.

Letupan orangtua dan anak juga bagian dari proses saling memahami. Proses belajar tak pernah sudah.