• Lama baca: 2 menit →

Hanya orang tak bermutu yang masih ngeblog dengan tulisan, seperti seks swalayan saja?

Sudah ada lima orang, dalam kesempatan berbeda, mengingatkan bahwa ngeblog ala saya itu sudah tak selaras zaman. Saya tak membantah. Malah mendukung. Mereka benar. Pertanyaan, gugatan, dan saran mereka juga serupa. Reply saya selalu replay. Ralat: reprise dengan aransemen berbeda.

Ada lagi, padahal mereka beda usia, yang menganjurkan saya bikin vlog, lintas platform. Kalau diseriusi bisa mendatangkan uang.

Saya langsung membayangkan kerepotan proses produksi, pakai tim pula. Belum lagi memantau trafik dan lainnya. Lalu setiap hari berpikir mau bikin konten apa, pakai rapat segala. Menegangkan.

“Nggak terhindarkan,” kata salah seorang.

“Mulai dari yang sederhana, nggak usah niru seleb kreator apalagi PH,” kata yang lain.

Sebetulnya saya hanya berkilah, untuk menutupi alasan penolakan yang sebenarnya untuk ngevlog, tapi akhirnya saya mengaku. Apa?

“Aku tuh malu, canggung, nggak nyaman di video. Video call nggak pernah aku layani, kalau kadung aku okein ya lensa aku arahkan ke tembok. Ikut rapat virtual selalu diketawain karena gagap, salah pencet mulu, muka hilang, suara ke-mute… Soalnya aku kikuk, grogi, nggak suka sama Zoom dan lainnya. Aku ikut Zoom paling banyak baru empat kali.”

“Oke. Situ memang katro. Ya udahlah. Gimana kalo bikin videografik pakai narasi?” yang lain menyodorkan usul.

“Aku nggak paham edit video. Bikin video juga nggak bisa. Males buat belajar.”

“Nah! Yang ini cocok buat sampean!” kata yang lainnya lagi. Apa?

“Mas bikin podcast model lama, cuma suara dan ilustrasi musik sama sound effect. Nggak ada wajah. Nggak perlu malu. Cuma rekam dan ngedit audio aja.”

“Terima kasih. Tapi vokalku buruk, artikulasi payah. Aku dengerin rekaman suaraku aja harus pake kebatinan, nebak-nebak aku tadi ngomong apa kok nggak jelas. Masa sih setua ini aku harus kursus vokal di studio atau ikut teater buat melatih bicara dan atur napas?”

Singkat kata, ya dalam kesempatan berbeda itu, mereka berkesimpulan saya tidak move on. Ada yang menggunakan istilah sopan, “Njenengan setia dengan jalan lama yang sunyi.”

Saya tak menyangkal.

Mereka juga mempersembahkan pertanyaan pamungkas yang intinya apakah saya masih merasa perlu belajar menulis.

Jawaban saya membuat mereka tertawa: “Tentu.”

Saya menamsilkan korps pasukan komando, tak ada prajurit terlatih karena yang ada hanyalah prajurit yang selalu berlatih. Gagah.

Tapi ada komentar, “Halah militeristis kayak situ bekas Menwa aja!”

Saya malah santai, menanggapi dengan tawa. Lihatlah para penempuh jalan pedang, sejak musisi, pemanah, pemanjat tebing, orang yang belajar bela diri, sampai copet, dan tukang ngutil di minimarket: mereka selalu berlatih. Saya? Ya iseng saja. Blog pribadi bukan pekerjaan.

“Emang situ Musashi si raja pedang? Situ ngeblog sesukanya kalau sedang niat. Eh, apa ya kata situ dulu? Oh ya, sepanjang ingat dan sempat tanpa mengenal tenggat. Itu sih bukan jalan pedang”

“Akuuuuu… seorang kapiten, wuluné brintik…” (menyanyi)

“Botak gitu kok!”

¬ Gambar praolah: Shutterstock

Pemilik BlogUmumhobi,konten,media sosial,menulis,Musashi,ngeblog,psikologi,vlogSudah ada lima orang, dalam kesempatan berbeda, mengingatkan bahwa ngeblog ala saya itu sudah tak selaras zaman. Saya tak membantah. Malah mendukung. Mereka benar. Pertanyaan, gugatan, dan saran mereka juga serupa. Reply saya selalu replay. Ralat: reprise dengan aransemen berbeda. Ada lagi, padahal mereka beda usia, yang menganjurkan saya bikin...Suatu atau sebuah blog?