↻ Lama baca < 1 menit ↬

Karaf Ikea untuk cupang yang akhirnya jadi vas tanaman hidup

Melihat karaf beling di teras dapur ini saya teringat belasan lainnya dan tentu para penghuninya: ikan-ikan cupang (Betta splendens). Semuanya sudah tamat. Masing-masing membawa derita berkepanjangan.

Daya tahan tinggi dan apa yang saya yakini sebagai pengobatan hanya memperpanjang derita mereka. Mereka nglentruk lemas dan kian kurus selama tiga bulan sebelum ajal menjemput. Tidak bersamaan sih. Ada yang berselisih hampir setahun.

Cupang mati mendadak hanya terjadi saat dia melompat keluar dan telat diketahui. Kalau tepergok sih masih bisa diselamatkan.

Ada masa, sebelum cupang sempat mendemam saat awal pandemi Covid-19, saya memiara cupang. Mulanya di kantor sebelum saya di-PHK, punya tiga ekor, yang dipilihkan sejawat tanpa saya ikut, seekor harganya Rp15.000.

Niat awal saya adalah mengikuti saran jumantik (juru pemantau jentik) dalam berita agar warga memiara cupang pemangsa jentik nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictu.

Lalu dari tiga cupang pertama, yang saya namai Al, El, dan Dul, itu saya menambah piaraan, sampai sebelas ekor. Antara lain Abrit, Jingga, Biru… Untuk membersihkan karaf, saya mengangkutnya dengan nampan berkaki milik OB ke pantry.

Ikan cupang dalam karaf Ikea untuk hiburan

Di rumah saya juga punya, membelinya lebih murah, seekor Rp2.500, saya beli di kampung secara bertahap. Namanya Joni, Alam, Cilepuk alias Pukpuk, Anggun alias Gugun…

Di kantor, tanpa saya sadari, ada orang mengamati saya lalu berkesimpulan, “Paman kesepian, sering ngomong sama cupang.”

Saat libur panjang, misalnya Lebaran, saya angkut berbotol-botol cupang ke rumah. Bertemu dengan belasan botol lain bersama penghuninya. Setelah masuk kerja, kerepotan yang sama pun berulang.

Botol-botol itu rumah mereka. Masing masing saya tempeli label nama dari Dymo.Ikan cupang dalam botol karaf Ikea untuk latar foto mobil stoples permen