• Lama baca: < 1 menit →

Heboh gaya berita olahraga Ridho Permana di Viva

Tak puas terhadap jawaban Kamso via WhatsApp, Joni Gudel pun menelepon. Menanyakan duduk berdiri serangkaian judul berita olahraga beraroma berahi.

Bagi Kamso, hal itu jadi besar karena warganet dan jurnalis lain mempersoalkan gaya judul si penulis. Lalu organisasi wartawan menegur media tersebut, dan organisasi lain bikin pernyataan untuk publik tentang etika jurnalistik.

“Yang salah siapa dong?” Gudel mendesak.

“Ndak tahu,” jawab Kamso. Tapi Gudel masih penasaran.

Akhirnya Kamso memberikan jawaban normatif. Pertama, itu bukan posting di blog pribadi, jadi media pemuat secara kelembagaan bertanggung jawab. Secara internal atasan si penulis tidak bisa pukul bola sembunyi raket.

Kedua, kenapa selama ini dibiarkan, media pemuatlah yang bisa menjelaskan.

Ketiga, jika terbukti umpan klik tersebut bisa mendulang trafik, tepatnya sebelum ramai protes, berarti banyak pembaca suka, setidaknya tertarik.

“Salah pembaca dong, Mas?”

“Lho, siapa yang nyalahin pembaca… ”

“Apakah demi trafik, semua keinginan pembaca harus dituruti, Mas?”

“Tanya ke medianya. Bukan saya yang punya situs itu, Gudel.”

¬ Gambar praolah: Lorenzo Paoletti / Dribbble.com

Pemilik BlogKamso & KamsiAJI,atlet,badminton,bahasa jurnalistik,berahi,erotika,erotisisme,jurnalisme,Kamso,kode etik jurnalistik,media daring,olahraga,pelecehan seksual,pwi,Ridho Permana,seksualitas,syahwat,tenis,Viva NewsTak puas terhadap jawaban Kamso via WhatsApp, Joni Gudel pun menelepon. Menanyakan duduk berdiri serangkaian judul berita olahraga beraroma berahi. Bagi Kamso, hal itu jadi besar karena warganet dan jurnalis lain mempersoalkan gaya judul si penulis. Lalu organisasi wartawan menegur media tersebut, dan organisasi lain bikin pernyataan untuk publik tentang...Suatu atau sebuah blog?