• Lama baca: < 1 menit →

Sudah jamak jika kaus lusuh jadi gombal atau lap. Bahan kaus selalu cocok untuk lap, kalau bahan lain belum tentu.

Saya mengamati label kaus ini saat memotongnya: Collection Pop Art. Entah apa alasan si produsen memilih nama ini untuk merek dagang kaus cendera mata untuk turis. Biasanya jenama untuk pasar wisata dipaksakan mengangkat unsur lokal, tapi yang ini tidak.

Lalu kenapa kaus saya potong? Kalau tetap dalam bentuk semula akan boros, tapi lebih penting lagi karena tebal maka akan sulit kering setelah lembap sehingga baunya penguk. Ketika kaus penguk terkena tangan, baunya pun berpindah ke kulit.

Yang paling sip ya setiap kali habis pakai harus dicuci lalu dikeringkan. Bakal tetap bahkan makin lusuh sih, tapi tidak penguk. Kalau malas mencuci, ya dibuang saja.

Ada sih cara tidak ekonomis tapi praktis: beli kain majun. Tapi sayang, kain majun sekarang tidak seperti lap pelitur zaman dulu yang berbahan katun kaus. Majun sekarang lebih banyak serat sintetisnya, kurang mampu menyerap air, lagi pula cepat penguk.

Pemilik BlogMemoandy warhol,desain grafis,gombal,kaos,kaus,lap,majun,pembersih,perca,pop art,roy lichtenstein,rumah tangga,seni rupa,t-shirtSudah jamak jika kaus lusuh jadi gombal atau lap. Bahan kaus selalu cocok untuk lap, kalau bahan lain belum tentu. Saya mengamati label kaus ini saat memotongnya: Collection Pop Art. Entah apa alasan si produsen memilih nama ini untuk merek dagang kaus cendera mata untuk turis. Biasanya jenama untuk pasar...Suatu atau sebuah blog?