• Lama baca: 2 menit →

Dalam berbahasa ada proses tarik menarik. Misalnya antara media dan pembaca. Dulu kata “penyintas” terdengar asing, namun kemudian diterima. Empat puluh tahun lalu “mangkus” dan “sangkil” ditawarkan tapi tidak laku. Sedangkan kata “mantan” (dari bahasa Jawa: mantên, bukan mantèn) cepat diterima karena lebih sopan ketimbang “bekas”.

Ada wilayah psikolinguistik dan sosiolinguistik dalam tarik menarik berbahasa. Di situlah media bermain. Kadang berhasil, kadang tidak. Ketika pada 1980-an Tempo dan Bondan Winarno memperkenalkan kata “kiat”, dan menjadi nama rubrik manajemen, kata tersebut cepat diterima.

Hari ini Kompas memuat kata “warita” dalam sebuah judul. Kalau kata “penyintas”, seperti saya sebutkan tadi, sudah diserap oleh para penutur bahasa.

Dalam artikel termaksud juga ada kata “walakin” — pernah saya tulis tempo hari.

Bahasa jurnalistik selalu menjumpai, dan menikmati, masalah.

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/12/wp-1608601130173-700x700.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/12/wp-1608601130173-150x150.jpgPemilik BlogMemobahasa indonesia,bahasa Jawa,bahasa jurnalistik,Bondan Winarno,Covid-19,kompas,pandemi,tempo,virus koronaDalam berbahasa ada proses tarik menarik. Misalnya antara media dan pembaca. Dulu kata 'penyintas' terdengar asing, namun kemudian diterima. Empat puluh tahun lalu 'mangkus' dan 'sangkil' ditawarkan tapi tidak laku. Sedangkan kata 'mantan' (dari bahasa Jawa: mantên, bukan mantèn) cepat diterima karena lebih sopan ketimbang 'bekas'. Ada wilayah psikolinguistik dan...Suatu atau sebuah blog?