• Lama baca: < 1 menit →

Para agen makin repot menjual media cetak. Saya tak tahu angkanya, cuma dengar keluhan dari loper dan penjual koran serta majalah. Dua pelaku pekerjaan itu pun terus menyusut.

Pagi ini koran Kompas disisipi selebaran bercetak lamat-lamat dari inkjet printer*. Dari Gramedia Majalah, menawarkan pelangganan sembilan produk.

Media cetak semakin tergusur media digital. Saya tak tahu, untuk Indonesia seberapa banyak pertumbuhan konsumen yang bersedia membayar untuk konten berbayar — apalagi jika harga versi cetak dan digital sama.

Dalam asumsi saya, konsumen berpikir tentang dua hal.

Pertama: konten digital terutama via web itu mestinya gratis. Itulah yang konsumen kenal sejak menggunakan internet.

Kedua: kalau pun harus membayar, konsumen berharap lebih murah dari versi cetak karena tak ada biaya kertas, biaya cetak, serta biaya distribusi dan gudang (plus biaya retur). Selain itu konsumen juga membayar sendiri biaya akses versi digital.

Lho bukannya penerbit konten digital juga harus membiayai infrastruktur untuk produknya selain biaya produksi konten? Lagi-lagi konsumen punya logika sendiri. Konsumen juga punya rujukan biaya berlangganan koran dan majalah digital dari tempat, eh… negeri lain.

*) Mungkin hasil repro dengan memindai selebaran asli

Pemilik BlogUmuminternet,kompas gramedia,konten digital,koran,loper,majalah,media cetakPara agen makin repot menjual media cetak. Saya tak tahu angkanya, cuma dengar keluhan dari loper dan penjual koran serta majalah. Dua pelaku pekerjaan itu pun terus menyusut. Pagi ini koran Kompas disisipi selebaran bercetak lamat-lamat dari inkjet printer*. Dari Gramedia Majalah, menawarkan pelangganan sembilan produk. Media cetak semakin tergusur media...Suatu atau sebuah blog?