• Lama baca: < 1 menit →

Mendikbud Nadiem Makarim dan bosnya nggak mikir

Hanya dari luar pagar, tetap bermasker, Pakde Mustang singgah sebentar saat jalan pagi untuk menyatakan kekesalan kepada Kamso dan Kamsi yang dia minta tak usah buka pintu carport.

“Nadiem itu nggak mikir. Bikin kelas pake online. Anaknya Mbakyu Sayur saben hari minta duit sepuluh ribu buat beli pulsa. Udah gitu hapenya sering ngadat,” kata Pakde.

“Jadi sebaiknya gimana, Pakde?” tanya Kamsi.

“Kalo jaringan internet belum merata jangan pake belajar online dong!”

“Tetap masuk sekolah tapi kena korona semua?”

“Bukan gitu sih. Menurut Nak Kamso?”

“Ada cara lain seperti citizen band radio, sekolah nggandeng RAPI, kayak di Lombok,” sahut Kamso.

Pakde tak menganggapi, malah membelokkan masalah, “Nadiem dan bosnya mestinya mikir sebelum ada pandemi!”

“Lha siapa yang ngira bakal ada Covid-19, Pakde?” kata Kamso.

“Yo wis, aku jalan dulu ya. Kalian jaga kesehatan!” kata Pakde.

“Dan jaga kewarasan… ” sahut Kamso. Tapi Pakde tak mendengar, keburu ada motor gerobak roda tiga bawa galon Aqua datang, bising suaranya.

Saat yang sama Kamsi mencubit suaminya dan berdesis, “Ati-ati kalo ngomong.”

¬ Sumber foto praolah: CNN Indonesia

Pemilik BlogKamso & Kamsibelajar dari rumah,belajar jarak jauh,Covid-19,Nadiem Makarim,pendidikan,virus koronaHanya dari luar pagar, tetap bermasker, Pakde Mustang singgah sebentar saat jalan pagi untuk menyatakan kekesalan kepada Kamso dan Kamsi yang dia minta tak usah buka pintu carport. 'Nadiem itu nggak mikir. Bikin kelas pake online. Anaknya Mbakyu Sayur saben hari minta duit sepuluh ribu buat beli pulsa. Udah gitu...Suatu atau sebuah blog?