• Lama baca: 2 menit →

Ponsel tak pernah lepas dari tangan, ilustrasi Blogombal.com

Entah keberapa kalinya Witty dan Litty repot, bahkan pernah jatuh dari tangga, tangga beton berundak maupun tangga lipat aluminium, karena bawa barang dan urus ini itu sambil tetap memegang ponsel. Bukan meletakkan di meja atau lainnya padahal di rumah sendiri.

“Anak sekarang, nggak bisa lepas dari hape. Dido anaknya Mbak Inu kalo ke kamar mandi bawa hape sama spiker Bluetooth,” keluh Kamsi.

“Aku kan sekalian ngitung langkah pake Google Fit,” kata Witty.

“Hape itu bukan cuma alat komunikasi tapi komputer mungil. Nggak mungkin pisah,” kata Litty.

“Bapak bisa tuh pisah. Tidur nggak pernah bawa hape yang udah off karena barangnya ditinggal di luar kamar,” kata Kamso.

“Soalnya Bapak orang jadul hahahaha,” sahut Witty.

“Hape dianggap kayak telepon kabel zaman dulu…” sergah Litty.

Kamsi memotong, “Bapak tuh mau nyindir Ibu. Soalnya sejak zaman cordless phone Ibu suka bawa ke kamar. Yang namanya barang portabel itu ya buat dibawa ke sana-sini.”

Mendadak Witty menukas, “Lho napa Bapak kok kayak anak kecil nggambar hape di lengan?”

Litty adiknya menyambar, “Pengin punya tato tapi takut sakit.”

Kamso tersenyum, lalu dengan sok kalem bilang, “Lagi bikin prototipe hape yang menyatu sama kulit, tapi nanti gak keliatan. Kan zaman internet of things? Lebih maju dari portabilitas.”

¬ Sumber gambar daun praolah: Dmytro Tolokonov

Pemilik BlogKamso & Kamsigaya hidup,Internet if things,IoT,milenial,ponsel,telekomunikasi,wearable devicesEntah keberapa kalinya Witty dan Litty repot, bahkan pernah jatuh dari tangga, tangga beton berundak maupun tangga lipat aluminium, karena bawa barang dan urus ini itu sambil tetap memegang ponsel. Bukan meletakkan di meja atau lainnya padahal di rumah sendiri. 'Anak sekarang, nggak bisa lepas dari hape. Dido anaknya Mbak...Suatu atau sebuah blog?