β€’ Lama baca: 5 menit β†’

Latar belakang mengapa Blogombal terbit lagi

Ketimbang menjawab pertanyaan beberapa orang dalam kesempatan berbeda, lebih enak kalau saya tulis.

Dulu sudah ngeblog, bahkan tanpa domain sendiri, lalu berhenti

Ya, saya ngeblog sejak awal 2000, setelah membaca majalah Inggris Computer Active sampai lupa sudah pindah berapa kali. Yang saya saya ingat di Blogdrive, di sana pula saya mulai bergaul.

Tahun 2006 saya ngeblog pakai domain sendiri, Blogombal dot org dengan beberapa subdomain, antara lain kartu, label, dan memo. Saya menggunakan identitas asli, dengan nama yang terdaftar di dukcapil, bukan KΓ©rΓ© Kemplu.

Para 2010 saya beroleh The Bobs Award untuk blog berbahasa Indonesia dari Deutsche Welle. Penyerahan trofi dilakukan dalam Global Media Forum di Bonn, Jerman, Juni tahun itu.

Akhir 2012 dan makin parah 2013, saya jatuh rudin, tidak bisa mengongkosi blog-blog saya, termasuk Kopi69 dot com dan situs agregator Rentjoko dot net. Domain jatuh ke orang lain, Mei tahun itu, diparkir di laman jualan domain.

Domain lepas, blog hilang, lalu datanglah penolong budiman

Pada 18 Desember 2013, seorang pembaca blog saya, yang tak bersedia diungkap, memberikan hadiah Natal domain Blogombal.com berikut hosting gratis.

Penolong budiman itu juga menyimpankan backup konten seluruh blog saya. Dia juga yang menyimpankan konten blog saya di Posterous setelah platform yang dibeli Twitter itu menutup layanan.

Saya hingga kini tak tahu apakah orang baik itu bekerja sendiri ataukah bersekongkol mulia dengan orang lain. Saya sungkan menanyakan. Tapi saya pernah mendapatkan celetukan dari seseorang dalam milis untuk memanfaatkan backup jika ada yang melakukannya.

Setelah punya domain baru dan konten terpulihkan saya segera ngeblog lagi. Cuma sebentar secara terbuka, setelah itu blog saya kunci.

Tetap ngeblog tapi secara tertutup setelah ministroke

Ya, saya tetap ngeblog namun hasilnya tak terlihat publik. Pembaruan cuma sedikit sih.

Gairah ngeblog justru muncul setelah saya hanya kerja di rumah. Pada 14 Februari 2014 saya mengalami ministroke (TIA, transient ischemic attack) saat menyetir mobil, satu kilometer menjelang sampai rumah.

Dengan transmisi manual saya seperti orang belajar mengemudi. Tangan dan kaki kanan saya kesemutan, tenaga berkurang, motorik terganggu. Koordinasi kedua kaki dalam mengegas, mengerem, dan mengopling kacau. Mobil agak terlonjak-lonjak dengan suara mesin menderu-deru, terutama sebelum dan setelah melewati polisi tidur.

Sambil menjalani terapi, dan menempa diri banyak berjalan kaki (alhamdulillah saya tidak lumpuh), keluar masuk kampung, sambil membawa kamera saku (karena ponsel Android saya kewalahan untuk memotret), saya menjumpai banyak hal dan jadi bahan cerita di blog.

jalan-jalan di kompleks setelah kena stroke

Ketika artikel saya termuat di Koran Tempo, saya memilih atribut mantan blogger.

Setelah saya bekerja di tempat baru, sementara di Slipi dulu, Mei 2015, saya tetap ngeblog, antara lain di WordPress.com, tetap banyak jalan kaki seperti sebelum kena TIA. Tapi blog tetap saya kunci. Saya kurang pede untuk membukanya karena alasan khusus dan sangat pribadi.

Video Hendropriyono dalam lift di kantor Slipi, Jakbar

Setelah resmi menganggur, saya pun ngeblog terbuka

Oktober 2019 saya dan teman-teman redaksi di-PHK dari perusahaan media di Jatibaru, Jakpus. Sepekan kemudian saya membuka kunci blog saya. Dua bulan kemudian hosting saya pindah ke tempat lain yang berbayar, demikian pula pengurusan domain traktiran itu.

Setelah saya buka, saya tetap ngeblog. Tentang hal-hal enteng remeh karena saya hanya bisa itu.

Slogan di blog era lama tak saya pakai namun saya tetap mempraktikannya: catatan ringan angin-anginan, terbit setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat.

Sebagai penganggur korban PHK, tapi supaya gagah mengaku pensiunan yang bekerja freelance, saya merasa lebih bebas, kembali menikmati punya media sendiri.

Nah, lalu kenapa masih ngeblog?

Saya tak tahu ngeblog sampai kapan. Selama masih nyaman akan saya lakukan.

Bukankah ngeblog sudah tidak ngetren lagi? Oh, memang pernah ngetren? Presensi digital yang (pernah) ngetren itu ya Facebook dan Twitter. Tanpa bermain di kedua ladang itu seseorang seperti tak hadir di dunia siber. Lalu ada Instagram, Tiktok, dan seterusnya. Dan jangan lupa vlog di YouTube.

Saya tetap ngeblog karena…

  • Dapat menuangkan isi benak tanpa terlalu mengganggu orang lain karena di kebun sendiri, kecuali untuk orang tersesat tapi tak berlaku untuk orang yang memang berniat mengunjungi
  • Tulisan saya terarsipkan lebih baik – memang sih orang lain tak butuh arsip saya karena saya pun memanfaatkan lebih sering karena kebetulan menemukan, bukan mencari
  • Sama-sama menulis agak panjang, bahkan bisa panjang, di ponsel lebih baik saya blogkan daripada memenuhi grup WhatsApp dan mengganggu anggota grup dengan konten yang tak mereka perlukan
  • Usia saya terus bertambah, saban hari, dan menulis saya perlukan untuk merawat benak terutama ingatan
  • Benar, jumlah pembaca blog saya sekarang sedikit karena hal itu memang kehendak zaman: kanal presensi digital kian beragam, konten kian kaya, tapi waktu baca orang semakin terbatas
  • Ada lagi faktor tambahan: sekian tahun saya prei ngeblog (padahal ngeblog dengan ngumpet), juga prei dari Twitter via akun @Pamantyo, lagi pula sudah lama meninggalkan Facebook, sehingga saya harus mulai lagi dari awal dalam presensi digital tapi saya menikmatinya
  • Ada yang menyebut kegiatan ngeblog saya saat ini seperti seks swalayan, ngeblog dengan hasil miskin pembaca, dan saya pun tak menyanggah karena saya tak merugikan mereka
https://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/06/wp-1591727751562-700x700.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/06/wp-1591727751562-150x150.jpgPemilik BlogUmumblogger,narablog,ngeblogKetimbang menjawab pertanyaan beberapa orang dalam kesempatan berbeda, lebih enak kalau saya tulis. Dulu sudah ngeblog, bahkan tanpa domain sendiri, lalu berhenti Ya, saya ngeblog sejak awal 2000, setelah membaca majalah Inggris Computer Active sampai lupa sudah pindah berapa kali. Yang saya saya ingat di Blogdrive, di sana pula saya mulai...Suatu atau sebuah blog?