• Lama baca: 3 menit →

Restoran. Nama itu tercetak dalam setruk. Lalu saya sadar tentang suatu hal.

Selama ini saya antara peduli dan tak peduli dengan cara rumah makan Minang melabeli diri. Saya lebih sering mengucapkan dan menuliskan “warung padang” dan “rumah makan padang”.

Ya, dengan “p” kecil sesuai aturan bahasa baku Indonesia ketika nama kota menjadi atribut. Serupa gudeg jogja dan serabi solo serta lunpia semarang.

Pajak restoran

Sederhana juga memakai atribut restoran. Begitu pun Natrabu dan Garuda. Sama halnya Roda dan Roda Padati. Bukan rumah makan. Harga dan rasa juga lebih tinggi dari warung padang apalagi yang dioperasikan orang Jawa ngapak.

Restoran itu berbeda kelas dengan rumah makan apalagi warung. Kalau dua yang pertama itu mengutip pajak, untuk pemerintah daerah, sebutannya pajak restoran. Tjotjok.

Saya tak tahu untuk semua penjual hidangan Minang itu Anda lebih sering menyebut restoran, rumah makan, ataukah warung.

Padang dan Minang

Padang atau Minang? Apa boleh buat masyarakat telanjur menyamakan.

Padahal teman saya, orang Minang kelahiran Jakarta, anak penjual cita di Pasar Tanahabang, Jakarta, tak terima dibilang Padang. “Gue tuh Bukittinggi,” dia mengoreksi.

Seseorang dari Solok di Jakarta juga pernah berujar serupa, mengoreksi dengan canda. Dirinya jelas Minang tapi bukan Padang.

Sederhana tak sederhana

Dari semua restoran padang itu yang mengesankan saya adalah Sederhana. Karena namanya.

Ada banyak warung bernama Sederhana. Terutama dulu. Mungkin lebih banyak ketimbang Sudi Mampir.

Akan tetapi jika menyebut Sederhana yang masakan Minang, orang tahu itu restoran yang satu itu. Oh, warung padang bernama Pagi Sore juga ada kok, tapi tak ada pertalian dengan yang restoran.

Sederhana versi restoran jelas tak sederhana. Itu organisasi besar. Melibatkan banyak orang.

Perjalanan bisnis Sederhana ternyata juga diwarnai konflik dan perpecahan, sehingga ada Sederhana dan Sederhana Bintaro. Yang pasti Restoran Sederhana itu ikonis sehingga menjadi tema kaus dan kemeja Goods Dept.

Meski Sederhana yang restoran itu ternyata kompleks, tetap ada yang melebihi, yakni kehidupan perkawinan sehingga mengilhami judul buku.

Pemilik BlogUmumbahasa,kedai,mengudap,minang,minangkabau,padang,rendang,restoranRestoran. Nama itu tercetak dalam setruk. Lalu saya sadar tentang suatu hal. Selama ini saya antara peduli dan tak peduli dengan cara rumah makan Minang melabeli diri. Saya lebih sering mengucapkan dan menuliskan 'warung padang' dan 'rumah makan padang'. Ya, dengan 'p' kecil sesuai aturan bahasa baku Indonesia ketika nama kota...Suatu atau sebuah blog?