↻ Lama baca < 1 menit ↬

KOTA KITA MESTINYA SEDIA AIR GRATIS — TERMASUK UNTUK MINUM.

raras main air

Baru sore saya tiba di kantor. Gerah. Gembrobyos. Harus mandi. Untunglah kumpeni menyediakan shower. Lumayan. “Mandi ujan pan seger,” kata Engkong di Rawabelong, kampung Betawi, saat saya dulu mencari kos dan dia memamerkan fasilitasnya.

Mandi. Sering. Dan teratur. Ini kebutuhan orang negeri tropis. Mau gayung mau mandi hujan, yang penting take a shower — kalau pakai air dingin tak perlu banyak aturan. Tapi likuran tahun lampau, waktu saya ke Ngablak (Merbabu), Dieng, dan Sembalun (Rinjani), banyak anak jarang mandi. Mereka seperti orang negeri utara. Bedanya, bule nggak mandi tetap dianggap lebih keren.

Hari-hari panas. Butuh pendinginan. Adakah cara murah tanpa membangun kolam renang, tanpa memasang AC? Ada. Setidaknya menurut saya.

raras main air

Saking kepanasanannya, anak saya minta diguyur. Ya sudah, biarkan dia gulung-koming di lantai luar yang sedang dikosek. Lantas ada yang menyemprotinya dengan air selang.

Dia girang dan segar. Setelah itu mandi dan keramas. Murah kan? Tanpa meler sentlup pilek lagi.

Anak-anak saya juga pernah saya izinkan berhujan-hujan. Mereka perlu memetik pengalaman. Kalau kondisi fit pasti tidak sakit. Dan itu terbukti. Mereka senang.

Kota-kota di dataran rendah lagi panas-panasnya. Sayang tak ada plaza — dalam arti pelataran — untuk publik yang lantainya bisa menyemburkan air. Pelataran Wisma Anggana Danamon, Jalan Sudirman, Jakarta, lagi dibongkar.

Ada yang khawatir air mancur maupun air muncrat di tempat umum hanya akan mengundang anak-anak kere bermain. Lho apa ndak boleh?

Saya membayangkan photo session untuk halaman fashion di air muncrat maupun air mancur publik. Kenapa boleh dan bisa? “Beda dong. Itu kan keren, lagian wet girls kan gimana gitu,” ujar sebuah suara.

Yah, kere memang nggak bisa keren. “Kere unyik”, kata sebuah cerpen. Sayang catatan kakinya tak dimuat. Lewat SMS si cerpenis bilang, kere unyik adalah “gelandangan hina dina”.