

Aku bukan seorang pengamat apalagi analis politik. Cuma seorang pemilik blog wagu. Ya wagu blognya, ya wagu pemiliknya, ya wagu kontennya yang rendah trafik karena tak menarik bagi warganet. Isi blogku sejak dulu hanyalah hal-hal enteng kerempeng, banyak yang aku semati foto jepretan sendiri.
Memang beberapa kali aku membahas politik. Niatku dulu hanya untuk selingan karena isu politik yang bikin rongseng, bukan tongseng, bukanlah rutinitas harian.
Akan tetapi makin ke sini aku merasa banyak berita politik yang memprihatinkan bahkan membikin gusar. Kabar buruk seputar negara dengan tata kelola semau penguasa menjadi pesan harian.
Kucoba tak terjebak algoritma konten di jagat maya, lalu aku melongok secara acak beraneka konten receh, ada yang konyol namun menghibur, ada yang mencerahkan, dan entah apalagi, pokoknya tak menggangu tidur.
Aku tak tahu kapan akhir garis hidupku. Hari esok Indonesia sampai sepuluh tahun mendatang suram. Mungkin setelahnya juga, saat perayaan sentenial atau seabad Indonesia pada 2045.
Akan tetapi apapun yang terjadi esok, mungkin aku takkan menyaksikannya maupun merasakannya karena perjalananku sudah usai. Lantas bagaimana dengan anak-anakku, dan kelak mungkin cucu-cucuku, juga semua warga Indonesia sebaya mereka, akankah hidup dalam Indonesia yang buruk?
Aku menghibur diri, setiap generasi tahu bagaimana menyusuri zaman. Termasuk bagaimana melakukan perubahan menuju hal yang lebih baik.
Maka di sisa hidupku, yang seperti isi token prabayar untuk apa pun, karena isinya terus menyusut, aku tetap ngeblog sepanjang ingat dan sempat, cukup dari ponsel, termasuk mencatat pandanganku tentang masalah politik, melengkapi aneka tulisan ringan, dan semoga renyah, yang menjadi warna blog ini.
Terima kasih untuk semua pembaca.
Tabik,
Pemilik Blog
