Masalah Indonesia itu Bowo dan Mulyono

Bermula dari polarisasi lantas rekonsiliasi, saling memanfaatkan. Tapi rakyat nggak dapat manfaat.

▒ Lama baca < 1 menit

Prabowo dan Mulyono sama-sama menyebalkan — Blogombal.com

“Sumber dari sumber segala masalah adalah dia!” kata Pak Hari Kursi dalam obrolan di warung Mamad yang jual kopi sasetan dan punya meja catur. Siang itu tak ada pecatur. Dia yang dimaksudkan Pak Hari adalah presiden sebelum Bowo.

“Soal ijazah itu kalo dari dulu dijawab jelas sampe tuntas kan udah selesai, nggak berlarut-larut sampe ada korban,” kata Pak Rizal Steker.

“Intinya semua masalah tuh ujungnya kalo bukan ke Prabowo ya ke J****i,” kata Pak Bardi Kalong.

“Gimana Mas Kam?” tanya Pak Alex Sekrup.

Kamso asal-asalan menjawab, “Kita mundur ke 2012. Yang keluar duit gede buat Pilgub DKI Mulyono dan Ahok itu Hasjim, adiknya Bowo. Lalu Mulyono dan Bowo bersaing untuk Pilpres 2014, diulang di 2019. Selama itu pula masyarakat terpolarisasi. Orang yang nggak dukung idolanya adalah musuh. Masing-masing gitu.”

“Lantas ada Pilpres 2024. Dagang sapi. Prabowo akan kuat kalo dibantu pendukung J****i ditambah parcok dan parjo. Syaratnya yang jadi wapres anaknya J****i,” timpal Pak Bardi.

“Harus kita akui, J****i itu mencegah perpecahan. Kalo dia nggak bantu Prabowo, lalu si jenderal kalah, peristiwa kayak di Bawaslu 2019 bisa lebih keras, di mana-mana. Terjadi konflik horizontal. Semua pihak rugi. Makanya saya milih Prabowo, tapi sekarang nyesel,” Pak Alex menengahi.

“Mungkin bener. Masalahnya tuh Indonesia nggak pecah tapi pengganti J****i ngurus negara nggak bisa. MBG cuma satu contoh,” Pak Rizal.

“Maap nih. Salah urus bisa dibenerin, tapi perpecahan lebih sulit,” si Mamad nyeletuk.

“Tapi nyatanya presiden dan wapres nggak sinkron. Makanya Prabowo mau maju lagi 2029, tapi ganti wapres. Bapaknya wapres nggak terima, tahun lalu pendukungnya udah mencanangkan Prabowo-G****n dua periode. Lha ya terserah Prabowo!” kata Pak Hari.

“Jadi gimana Mas Kam?” tanya Pak Alex.

“Nggak tau. Obrolan kita ini zig-zag,” jawab Kamso.

“Mungkin gini,” sergah Pak Bardi, “sejak awal J****i tau kalo Prabowo nggak bisa ngurus negara, dan bakal kekurangan suara kalo nyapres, makanya dia bantu, dengan harapan kalo ada ada apa-apa maka wapres akan gantiin. Gitu kan simpelnya?”

“Prabowo juga ogah. Mereka saling memanfaatkan posisi,” kata Pak Hari.

“Sekalian zig-zag, duit safari politik J****i ke Lampung sampe Indonesia Timur itu dari mana? Mas Kam, emang uang pensiun dia cukup buat bagi kaus dan sembako terus-terusan, nggaji tim komunikasi dan buzzer?” timpal Pak Bardi.

“Lho kok tanya saya,” jawab Kamso dengan lagak menirukan J****i.

Tinggalkan Balasan