Menjadi Nanik Deyang itu berat

BGN tak harus dipimpin ahli gizi. Ada dua macam PR untuk dia dan tim.

▒ Lama baca 2 menit

Menjadi Nanik Deyang itu berat — Blogombal.com

Persoalan Nanik Sudaryati Deyang (58) di mata saya adalah akseptibilitas oleh publik dan popularitas. Yang saya maksudkan adalah kata popular, yang berbeda dari famous, karena popular itu bisa berarti disukai dan bisa juga merakyat sehingga ada popular front yang kita Indonesiakan front rakyat. Tenar belum tentu disukai. Menurut Asmuni, dalam sebuah kaset Srimulat, “Terkenal dan tercemar di mana-mana.”

Saya tak berbekal data survei, namun saya beroleh kesan Nanik itu tak disukai publik. Khalayak juga tak menerima dia sebagai kepala BGN. Olok-olok di media sosial terhadapnya meriah — apalagi terhadap BGN, sehingga video mobil SPPG terperosok kubangan pun menjadi pelipur lara pemantik kegirangan. Bahwa secara statistik hal itu belum tentu mewakili mayoritas kaum yang diam, ya mungkin saja.

Saya membayangkan hal itu berat. Apapun yang Nanik lakukan dan katakan sering dianggap salah. Omongannya bisa hanya dicomot sepotong, misalnya (bukan kutipan langsung): tak mudah membubarkan dapur MBG karena ekosistemnya menyangkut partai, TNI, dan Polri. Hingga kini saya belum menemukan video lengkap yang memuat itu maupun teks dalam media berita. Tolong Anda bantu saya.

Soal yang berat bagi Nanik adalah tolakan oleh publik terhadap MBG dan BGN karena laporan warga, media berita, dan hasil riset. Lembaga dan programnya ditolak, pemimpinnya juga. Beratlah itu. Bahwa bagi Nanik hal itu cincai ya silakan saja. Hak setiap orang untuk pede dan menaklukkan tantangan.

Penolakan publik — atau sebagian publik kalau ingin istilah netral — terhadap dia lebih karena kompetensinya yang ditilik dari latar belakang keahlian. Nanik bukan pakar ilmu gizi, mengapa memimpin BGN? Tentu jawabannya bukan karena harus menggantikan bekas atasan dan koleganya yang dicopot lantaran sangkaan tipikor.

Bagi saya tolakan itu tidak pas. BGN boleh dipimpin siapa saja, dari ahli serangga hama tanaman sampai ahli nujum dan ahli omon-omon abab, tak harus ahli gizi. Yang penting dia mampu secara manajerial, punya tim yang berkompeten dalam gizi, juga orang-orang yang paham katering sekelas timnya Surya Paloh di Indocater. Tentu ada syarat lain: tidak korup sejak dari pikiran dan hal itu tak ada hubungannya dengan sudah brewu sejak lahir maupun sudah kesrakat sejak bayi.

PR dalam arti pekerjaan rumah bagi Nanik dan tim itu berat karena harus bikin betul BGN dan programnya, juga menyangkut komunikasi untuk PR dalam arti public relations, untuk meyakinkan publik.

Jadi, saya membela Nanik? Silakan kalau Anda berpendapat demikian. Kalau dia gagal memberesi BGN dan MBG, itu karena dia tak sanggup mengelola. Saya tak mengamini lelucon bahwa Nanik bisa disebut sukses memimpin BGN kalau membubarkan semua dapur tanpa ganti rugi apalagi membubarkan BGN — itu bukan kewenangan dia. Apakah saya mendukung Nanik, BGN, dan MBG? Tidak.

Kalau soal posisi rangkap Nanik sebagai komisaris independen Pertamina? Hmm… Pertamina itu BUMN, bukan murni partikelir, meskipun belum menjadi perusahaan publik tidak patut jika pemegang saham terkesankan asal tunjuk. Lha kan cuma komisaris? Eh, cuma? Nggak cuma-cuma lho.

¬ Foto dari tangkapan layar Kompas TV (September 2025)

7 Comments

AMD Minggu 21 Juni 2026 ~ 10.18 Reply

Kalau yang ini aku komentarnya di WA aja dah huahahahaaa..

Pemilik Blog Minggu 21 Juni 2026 ~ 11.56 Reply

Off the record ya?
Jadi inget seorang jenderal zaman dulu, “Ini off the record, Tyo” — jarinya langsung memencet tombol stop. Mentang-mentang militer 😁

mpokb Jumat 19 Juni 2026 ~ 23.27 Reply

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Berlaku juga untuk pejabat lain, Bang Paman…

Pemilik Blog Jumat 19 Juni 2026 ~ 23.58 Reply

Yeah… apa boleh bikin 🙈

Junianto Jumat 19 Juni 2026 ~ 16.08 Reply

Mantan wartawan di Palmerah….

Pemilik Blog Jumat 19 Juni 2026 ~ 17.38 Reply

Kebetulan dalam hal ini dia bekas jurnalis. Kalau bukan bekas eks jurnalis, pendapat saya tetap. Manajer eh CEO klub NBA juga banyak yang bukan eks pebasket pro, kan?

Tinggalkan Balasan