Mabuk kecubung dalam pemerintahan

Ada soal mengubah aturan tersebab syahwat kuasa, ada pula antek asing, dari S.H. Mintardja.

▒ Lama baca < 1 menit
Bunga Kecubung S.H. Mintardja — Blogombal.com
¬ Ilustrasi sampul Bunga Kecubung oleh Andang.

Kalau paugeran tata pemerintahan tak membolehkan, ubah saja itu agar tjotjok dengan kepentingan jangka pendek penguasa. Siapa pun yang berkuasa merasa berhak untuk melakukan itu. Ini seperti Raja Louis XIV dalam sejarah Prancis : l’etat c’est moi, negara adalah saya. Sesuka penguasalah karena etika itu ndhasmu.

Bunga Kecubung S.H. Mintardja — Blogombal.com
¬ Kalau adab dan kepatutan menghambat hasrat, ubahlah agar sesuai kepentingan jangka pendek bahkan panjang si pengincar tahta kekuasaan.

Saya tersenyum membaca dialog dalam Bunga Kecubung (BK) versi web, dari karya Sungguh Hadi Mintardja (1994). Terdiri atas enam jilid, cerita BK tidak menarik. Untung singkat, tak sepanjang Api di Bukit Menoreh (AdBM) yang sampai 396 jilid selama 34 tahun, namun penulisnya wafat dalam usia 66 pada 1999 sebelum ceritanya tamat (¬ “Agung Sedayu, pendekar lembah manah itu“, arsip 2024).

Penyalinan BK dan karya Pak Singgih yang lain setahu saya seizin ahli waris. Setidaknya, untuk AdBM, admin blog di WordPress menyatakan demikian. Saya membacanya di tablet, dengan setelan reading mode, hanya layar hitam dengan teks putih, seberapa pun teks saya perbesar maka paragrafnya tak berantakan, setiap baris tampil utuh.

Bunga Kecubung S.H. Mintardja — Blogombal.com
¬ Ketika tampilan laman web di tablet mirip desktop, opsi reading mode adalah solusi.

Cerita yang sulit disebut sebagai cerita silat Jawa, karena porsi perkelahian teramat sikit, tak ada jurus ajaib dengan kehadiran pendekar mahasakti, ini berlatar masa Kesultanan Panjang (1568–1587), dan itu pun hanya disebut selintas, sekali pula. Pusaran konfliknya pun bukan di pusat pemerintahan melainkan suatu kadipaten.

Ada saja dialog yang membuat saya tersenyum bahkan menahan tawa. Padahal itu tulisan abad lalu. Ada serangkaian tuturan panjang seorang prajurit yang mengingatkan saya kepada ejekan mahasiswa terhadap polisi rendahan di lapangan: rajin baca jadi pintar, malas baca jadi polisi.

Bunga Kecubung S.H. Mintardja — Blogombal.com
¬ Aha! Eh, ehm…jadi ingat demonstrasi mahasiswa.

Ada pula dialog ini, yang menyangkut intervensi asing dalam konflik politik domestik. Memang bukan isu baru, sejak dulu ada dan terbukti di banyak negeri. Namun bisa saja sebagai retorika diembuskan oleh penguasa untuk membentuk solidaritas atas nama nasionalisme maupun patriotisme, tujuannya mengalihkan persoalan dengan mencari kambing hitam. Padahal penguasa juga menghamba kekuatan asing. Jas bukak, iket blangkon…

Bunga Kecubung S.H. Mintardja — Blogombal.com
¬ Hoiiii… antek-antek asing!

Lalu kenapa saya tersenyum membaca BK? Yakinlah, saya tak mabuk kecubung. Dulu maupun kini.

Mabuk kecubung — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan