
Sebelas tahun yang lalu. Sudah lamakah, atau rasanya baru beberapa tahun terlampaui? Beda orang beda kesan. Umumnya waktu terasa melesat cepat. Apalagi jika melihat pertumbuhan anak.
Saya membayangkan seorang anak perempuan yang pada 2015, sesuai tahun terbit Femina yang saya foto ini, dulu masih kelas tiga SD, dan bulan ini dan esok mungkin dia ikut demonstrasi mahasiswa. Bapak dan ibunya mungkin belum pensiun. Dalam edisi yang saya temukan ini ada laporan Aksi Kamisan.

Atau cewek tersebut ikut aksi ke-912, Kamis 18 Juni 2026 lalu di depan Istana Merdeka, Jakarta. Dalam terbitan 5 Juni 2015, Femina mengangkat delapan tahun perjuangan Aksi Kamisan menuntut keadilan.
Aksi ini bukan hanya oleh dan untuk Maria Catarina Sumarsih (74), ibunda dari seorang mahasiswa korban kekerasan militer, almarhum Realino Norma Irmawan (Wawan), pada 1998.

Aksi Kamisan juga bukan hanya untuk dan oleh Suciwati (58), istri dari mendiang Munir Said Thalib (1965–2004) pendiri Kontras, yang dibunuh oleh agen negara dalam penerbangan Jakarta–Amsterdam. Pada 18 Januari 2007 Suciwati dan Bejo Untung memulai Aksi Kamisan. Aksi itu oleh dan untuk masyarakat sipil Indonesia, menagih keadilan kepada negara, siapa pun presidennya.
Apakah Femina, sebagai majalah wanita, dalam edisi tahun ke-43 itu bermain politik? Banyak sisi kehidupan yang menyangkut politik, dari harga pangan, sandang, papan, lapangan kerja, KDRT, pekerja rumah tangga, perlindungan anak, biaya pendidikan, perlindungan konsumen, kesetaraan gender, hingga kekerasan seksual. Menyangkut politik karena bertaut dengan kewajiban negara melindungi warga.

Tentu sebagai majalah wanita — istilah ini lebih lumrah daripada majalah perempuan — Femina edisi termaksud juga membahas seputar perkawinan. Dalam edisi ini ada bahasan memulihkan kemesraan setelah hubungan ekstramarital. Pada 2014 saya mengangkat Femina edisi 1991 yang tetap membatasi pembahasan seks hanya untuk suami istri (¬ “Seks dalam Femina Edisi 1991“).

Gaya Femina berbeda dari Cosmopolitan Indonesia yang lebih berani, untuk perempuan belia, sehingga dalam cover lines ada topik orgasme paling lama (¬ “Ohhh… Orgasme Panjang Wanita!“, 2011) dan seks oral (“Panduan seks oral untuk wanita“, 2017)

Demikianlah secuil kecil gambaran majalah wanita pada era media cetak. Apanya yang membedakannya dari era media daring? Antara lain ini: wadah dan foto. Saya sebut wadah karena topik yang dulu ada di majalah wanita kini ada di media berita umum, bersaing dengan situs yang menyasar wanita.
Adapun soal foto, dalam media daring redaksi tak perlu menghasilkan foto sendiri karena tinggal mencomot dari internet, secara legal maupun ilegal. Bahkan kini bisa dengan foto hasil AI generatif seperti yang dilakukan Liputan 6 untuk artikel arsitektur dan desain interior.

Maka lihatlah kredit untuk foto sampul, yakni model Gracia Indri. Tak hanya nama fotografer tetapi juga buana, rias wajah, dan tata rambut. Hal ini tak hanya berlaku untuk majalah wanita. Majalah komputer di Indonesia pun dulu ada yang melakukan hal serupa.
Hal tersebut menyangkut ekosistem: banyak model baru memerlukan portofolio, demikian pula para perias serta perancang busana maupun penjual busana, dan di sisi lain majalah diuntungkan karena tak perlu membayar mahal, bahkan model tenar pun ada yang membolehkan proyek tengkyu karena hubungan baik.
Dengan tampil di majalah melalui sesi khusus pemotretan, model yang kuat pun tetap eksis. Para perancang busana berkesempatan menampilkan kreasi. Para perias wajah dan rambut seperti mencicil lookbook untuk memikat calon klien. Dulu belum ada media sosial yang mengutamakan konten visual macam Instagram.
Majalah hiburan pria di luar negeri, seperti Playboy dan Penthouse, bisa menampilkan kredit foto lebih banyak, tak hanya tata rias sampai ke hairdo tetapi juga anting, kalung, lingerie, dan high heels, padahal dalam jepretan tertentu si model tampil bugil.
