Memang bukan tusuk gigi

Jangankan tusuk sate dan sumpit, terhadap tusuk gigi dari bambu dan kayu pun kita selalu menganggapnya bersih dan aman.

▒ Lama baca < 1 menit

Tusuk sate bekas pakai di warung Jasun Pondokgede — Blogombal.com

Dari tempat duduk saya tampak kaleng merah bekas biskuit gulung dengan tusuk sate mencuat, di atas rak makanan berdinding kaca. Maka saya pun mendekat.

“Itu bukan tusuk gigi, Pak. Itu tusuk sate,” kata Pak Warung. Saya tertawa, dalam hati saya bilang itu tusuk gigi kuda nil. Lalu saya minta izin memotretnya dan menunjukkan hasilnya.

Saya segera menebak itu tusuk sate bekas pakai, sebelumnya untuk menusuk sejumlah lauk. Kata Pak Warung, banyak pembeli makanan untuk dibawa pulang yang tak menginginkan tusuk karena merepotkan.

Tusuk sate bekas pakai di warung Jasun Pondokgede — Blogombal.com
¬ Contoh lauk yang ditusuk, yakni cumi balado.

Iseng saya menanya Pak Warung, “Tusuk satenya nanti dipakai lagi nggak, Pak?” Dia tersenyum, “Oh, nggak. Saya taruh di situ daripada berceceran. Nanti saya buang.”

Dua macam tusuk sate beli jadi — Blogombal.com
¬ Tusuk sate beli jadi: ada versi minimarket, versi pasar tradisional. Klik gambar untuk membaca arsip.

Saya membatin, misalnya untuk sate, karena dibakar, mungkin setelah tusuk dicuci lalu dipakai ulang tidak apa-apa. Tetapi setahu saya, tusuk sate dari bambu, yang rapi potongannya, tersedia di minimarket, biasanya juga langsung dipakai tanpa dicuci kan? Kekebalan tubuh kita dapat menoleransi.

Terhadap sumpit mi ayam dari bambu maupun kayu juga demikian, kita menganggap kalau terbungkus plastik atau kertas berarti bersih. Nyatanya selama ini aman.

Tinggalkan Balasan