
Dari tempat duduk saya tampak kaleng merah bekas biskuit gulung dengan tusuk sate mencuat, di atas rak makanan berdinding kaca. Maka saya pun mendekat.
“Itu bukan tusuk gigi, Pak. Itu tusuk sate,” kata Pak Warung. Saya tertawa, dalam hati saya bilang itu tusuk gigi kuda nil. Lalu saya minta izin memotretnya dan menunjukkan hasilnya.
Saya segera menebak itu tusuk sate bekas pakai, sebelumnya untuk menusuk sejumlah lauk. Kata Pak Warung, banyak pembeli makanan untuk dibawa pulang yang tak menginginkan tusuk karena merepotkan.

Iseng saya menanya Pak Warung, “Tusuk satenya nanti dipakai lagi nggak, Pak?” Dia tersenyum, “Oh, nggak. Saya taruh di situ daripada berceceran. Nanti saya buang.”

Saya membatin, misalnya untuk sate, karena dibakar, mungkin setelah tusuk dicuci lalu dipakai ulang tidak apa-apa. Tetapi setahu saya, tusuk sate dari bambu, yang rapi potongannya, tersedia di minimarket, biasanya juga langsung dipakai tanpa dicuci kan? Kekebalan tubuh kita dapat menoleransi.
Terhadap sumpit mi ayam dari bambu maupun kayu juga demikian, kita menganggap kalau terbungkus plastik atau kertas berarti bersih. Nyatanya selama ini aman.
