• Lama baca: 2 menit →

Perbandingan tusuk sate bikinan pabrik dan perajin kampung

“Kalo yang itu cakep, Pak,” kata Cak Sate, penjual sate madura dekat rumah, ketika saya mampir sambil menenteng sekantong tusuk sate kemasan 500 gram. Berbahan bambu, halus, khas bikinan pabrik.

Malam kemarin sepulang dari Pasar Kecapi dengan berjalan kaki saya pun makin lapar dan sejak sebelum berangkat yang terpikir adalah sate ayam. Sakndilalah saya memang berencana membeli tusuk sate untuk keperluan non-kuliner.

Segepok sujèn entah berapa batang itu saya beli Rp12.000. Cak Sate juga beli sujèn, tidak beli sendiri, sejak zaman bapaknya buka warung di wilayah saya tahun 1990-an. Sekilo tusuk sate, dengan gagang gagang lebih besar, pipih, dan kasar, dia beli Rp21.000 di Pasar Pondokgede. Ketika saya tanya apakah isinya sampai seribu batang, dia bilang, “Kayaknya sih sampe, Pak.”

Saya tak tahu kapan terakhir kali para penjual sate membuat sujèn sendiri. Pengecualian berlaku untuk sate yang ditusuk ruji sepeda.

Perbandingan tusuk sate bikinan pabrik dan perajin kampung

Saya hanya ingat, ketika masih kelas satu-dua SD saya diweling ibu saya untuk memesan sate sapi di rumah Pak Mur, Jalan Seruni, Salatiga, Jateng. Sepulang sekolah saya singgah, menyampaikan amanat, dan ngobrol dengannya di atas amben bertikar dalam rumah temaram padahal siang hari karena berjendela kecil itu.

Satu hal yang saya ingat dari Pak Mur: di lahan yang kemudian ada bangunan Gereja Kristen Jawa, Jalan Diponegoro 55, itu ada tiga buah batu besar. Halaman belakang gereja, disela oleh rumah penduduk, antara lain tempat tinggal Mbak Wiwik teman kangmas saya, menghadap ke Jalan Seruni, tempat Pak Mur berumah.

Tiga batu besar itu, dalam versi Pak Mur, adalah séla tiga. Dari sanalah nama Salatiga berasal. Séla berarti batu.

Pemilik BlogUmumbahasa,diferensiasi kerja,nostalgia,sate,sejarah,sejarah Salatiga,sujèn,toponimi,tusuk sate'Kalo yang itu cakep, Pak,' kata Cak Sate, penjual sate madura dekat rumah, ketika saya mampir sambil menenteng sekantong tusuk sate kemasan 500 gram. Berbahan bambu, halus, khas bikinan pabrik. Malam kemarin sepulang dari Pasar Kecapi dengan berjalan kaki saya pun makin lapar dan sejak sebelum berangkat yang terpikir adalah...Suatu atau sebuah blog?