
Foto berita tunggal di koran Kompas (Senin, 13/4/2026), jepretan Prasetia Fauzani dari Antara, ini menarik justru karena sebagai isu tak aktual.
Berita di banyak media saat ini diramaikan oleh perang AS dan Iran beserta dampak ekonominya bagi Indonesia, lalu tentang BGN, dan korupsi kepala daerah, namun dalam berita di koran terselip pengingat tentang Marsinah. Tanggal pemotretan (Jumat, 10/4/2026) menjadi unsur kesesuaian waktu, atau timeliness, dalam pemberitaan.
Kapsi di bawah foto terbaca jelas di layar ponsel Anda. Adapun tentang Marsinah dan kematiannya, silakan Anda cari. Kasus pembunuhan aktivis buruh itu gelap hingga kini. Polisi saat itu buntu mengusutnya.
Misalnya para pelaku — dari pemberi perintah, eksekutor, hingga pelindungnya — hingga hari ini masih hidup, adakah rasa bersalah dalam diri mereka?
Andai kata rasa bersalah itu ada, tergerakkah mereka untuk membuat surat pengakuan demi mengurangi, misalnya ada, mimpi buruk karena perang nurani selama puluhan tahun?
Saya teringat paman teman saya yang sepulang dari Timor Timur menjadi eksekutor pembunuhan misterius terhadap preman dan residivis, awal 1980-an. Setiap kali melewati hutan jati tempat eksekusi itu, antara Salatiga – Grobogan, badannya gemetar, berkeringat dingin, padahal dia pergi bersama keluarga.
Dia tidak dapat tidur nyenyak, selalu dihantui rasa bersalah menembak orang yang tak berdaya, yang dicokok dari tempat yang jauh dari hutan jati.
Akhirnya dia mendatangi seorang pendeta sebuah gereja, suatu lingkungan yang bukan bagian dari perjalanan hidupnya sejak lahir maupun keluarganya, dan akhirnya mendapatkan ketenangan jiwa.
Tak semua orang bisa tenang membunuh bahkan atas nama tugas negara.
Membunuh atas nama negara? Presiden Soeharto pada akhir 1989 akhirnya mengakui gelombang petrus atas perintahnya, dan menyebutnya shock therapy. Dunia internasional prihatin atas petrus karena melanggar HAM.

Lalu apa hubungan Soeharto dan Marsinah? Keduanya pada 10 November 2025 mendapatkan gelar pahlawan nasional.
Oleh pemerintah, Soeharto disebut sebagai pahlawan dalam perjuangan bersenjata dan pembangunan nasional. Sedangkan Marsinah, menurut pemerintah, adalah pahlawan dalam bidang perjuangan sosial dan kemanusiaan, sekaligus pejuang HAM dari rakyat biasa.

2 Comments
Yg satu memang patut dikasih nama pahlawan, yg satunya lg entahlah—terlalu banyak kontroversi atas kelakuan & warisannya..
Untuk hal yang kontroversial sebaiknya tidak buru-buru, biarlah waktu yang menyembuhkan.
Tapi kalo liat gejalanya kan sdh terlihat di MPR, nama Harto dibersihkan. Arahnya sudah terbaca saat itu, dia akan dipahlawankan.