Membayangkan jadi guru ekonomi di SMA

Ini era medsos. Terlepas dari pembatasan usia pengakses, konten aktual tetap menyebar, termasuk soal MBG.

▒ Lama baca 2 menit

Saya tak paham ekonomi. Maka membayangkan jadi guru ekonomi di SMA itu sulit. Kalau soal kemampuan mengajar, dengan sertifikasi, tentu juga sulit. Tetapi bagaimana dengan otak saya karena kini di media sosial berseliweran aneka info perihal ekonomi?

Tentu semua info di medsos harus tetap mengundang skeptisisme, mengharuskan kita memeriksa kebenaran datanya dengan mencari rujukan dan ketepatan menafsirkannya.

Ketika kita tak menyetujui sesuatu tak berarti semua informasi negatif tentang hal itu kita anggap benar, misalnya dalam hal MBG. Bukankah kita harus selalu berusaha adil terhadap hal yang kita sukai maupun tak kita sukai? Misalnya dalam hal wapres dan tentu presiden.

View this post on Instagram

Akal imitasi bisa membantu namun mensyaratkan kita untuk tak langsung percaya apalagi main rujuk dan kutip. Misalnya saya jadi guru ekonomi di SMA, saya harus selangkah lebih maju sebelum murid bertanya.

Saya dulu, abad lalu, dalam semester pertama kuliah mendapatkan mata kuliah pengantar ekonomika. Pengajarnya seorang profesor, membuat buku sendiri dengan isi seperti untuk anak SMA: mudah dicerna. Seperti serial for dummies atau for idiots. Isinya berbeda dari buku dia yang diterbitkan oleh LP3ES dan artikel dia di jurnal Prisma.

View this post on Instagram

Tentang uang sebagai alat tukar, dia memberi contoh mengapa gaji pegawai tidak berupa sekian tandan pisang. Dari hal sederhana lalu kupasannya melebar dan mendalam. Nama dosen tersebut Ace Partadiredja, pernah menjadi rektor UII Yogyakarta.

Kini, dengan aneka informasi seputar ekonomi di media sosial, oleh pelbagai akun, bagaimana saya menjelaskannya kepada murid di kelas jika mereka menanyakan topik aktual?

Paling kental saat ini tentu seputar MBG, BGN, KDMP, dan aneka kebijakan pemerintah. Misalnya tak ada murid yang gatal bertanya, termasuk di luar kelas, tentu saya bersyukur. Tetapi saya harus selalu mengecas benak saya supaya tidak gagap saat ditanya tetangga dalam reriungan RT dan acara syawalan bersama keluarga besar.

Menjadi guru IPS dan kewarganegaraan lebih repot lagi. Apa yang berlangsung di republik ini jauh panggang dari api. Tetapi guru putri saya, di sebuah SMA khusus cewek di Lapangan Banteng, Jakpus, pada masa jaya media cetak, selalu mengharuskan siswi membawa koran hari itu untuk mendiskusikan berita utama (headline).

Tinggalkan Balasan