
“Menurut Oom Kam gimana tuh rencana Nasdem mau gabung ke Gerindra?” tanya Bima Lengkeng di warung kopi sasetan dan gorengan Bejo.
Sambil memegang tahu isi yang masih hangat, Kamso mendengus, “Huh gosip politik.”
Lalu, “Bim, apa untungnya buat Surya Paloh? Dia tipe petarung sabar. Hanya kalo sudah habis-habisan, daripada partai bubar, mendingan balik ke teman asrama lama. Golkar diaspora kan di mana-mana. Artinya Golkarisme juga di mana-mana.”
“Kabarnya bisnis Paloh keganggu gara-gara dulu dukung Anies, Oom?”
“Konon sih. Bisnis kateringnya buat industri kesodok, lalu rencana bangun menara kembar susah dapet kredit, lantas kader dibajak PSI, partai yang dulunya cuma partai bocah. Bisnis media juga mendung. Itu ditambah soal regenerasi pemimpin, banyak orang Nasdem nggak sreg sama Nanda, anaknya Paloh, soalnya belum mateng dikarbit.”
“Masalah partai hampir sama ya, Oom. Soal juragan.”
“Yah, personifikasi partai. Nasdem adalah Paloh, Gerindra adalah Bowo, Demokrat adalah SBY, PDIP adalah Mega. Perindo adalah Hary Tanoe — jadi partai keluarga banget, sekeluarga pada nyaleg. Kalo Golkar kadung jadi dinosaurus, mesin politiknya bagus, siapa mimpin nggak masalah. PKS kecil tapi kayak Elf yang rutenya jelas, siapa sopirnya nggak soal. Kalo PKB akhirnya identik dengan Imin. Dia adalah PKB gitu juga sebaliknya. ”
“PSI sebagai partai baru akhirnya jadi gajah, bukan partai anak muda yang mau bikin perubahan ya, Oom.”
“Di Amerika, gajah tuh but ikon Partai Republik, grand old party. Kalo ikon Demokrat itu keledai. Ikon itu dari media sejak dulu. PSI pingin jadi the new establishment. Dulu Nasdem juga kecil, dimulai dari ormas. Demokrat SBY juga kecil. Tapi begitu ikut pemilu dapat kursi, kalo Demokrat malah bisa menghasilkan presiden.”
“Lalu PSI ke mana, bakal jadi personifikasi Mulyono dan anak-anaknya? Ikon diganti, dari gajah ke kursi, sesuai simbol mebel.”
“Di Jateng yang top itu kuaci cap Gajah. Dulu sih sebagai partai anyar, dari anak muda, kayaknya menjanjikan. Mana didukung wong sugih yang butuh kepastian usaha, Jeffrie Geovani jadi orkestrator. Keluarga konglomerat yang punya bank gede ikut jadi bohir. Lalu PSI atas arahan Mulyono nempel ke Bowo yang dulu mereka lecehkan. Orang-orang tua, dari Nasdem, masuk sana, soalnya karier politik di Nasdem bakal mentok.”
“Apa mereka, para politikus tua maupun muda, mikirin rakyat? Sekarang aja pada mikirin Pemilu 2029, termasuk nyari duit buat itu, Oom! Tapi apa cawapresnya nanti sama dengan yang sekarang, pada males ngebahas. Wapres kabarnya mau masuk Nasdem.”
“Ini tahu isi kenapa cepet adem ya, Jo?” tanya Kamso kepada Bejo, pemilik warung, sambil menyentuh isi piring.
