Kembali ke sistem kalender dan catatan manual

Akhirnya adopsi teknologi yang menjanjikan kemudahan bisa memenatkan — pun mengesalkan.

▒ Lama baca 2 menit

Manfaat kalender kertas — Blogombal.com

Jangan tersenyum membaca judul tentang sistem kalender. Istilah yang itu kadang dihubungkan dengan pembatasan kelahiran. Sistem kalender yang saya maksudkan cara jadul menggunakan kalender kertas dengan catatan agenda dan lainnya.

Bukankah ada ponsel yang sinkron dengan komputer untuk fungsi itu? Ya. Tetapi belakangan saya kembali ke masa orangtua saya, yang selain punya buku agenda juga mengandalkan kalender dinding dan meja.

Kenapa saya tinggalkan ponsel untuk agenda? Setelah saya tak bekerja, sejak tujuh tahun lalu ternyata tinggalkan ponsel untuk agenda dan sebangsanya. Sejak pandemi saya jarang dan akhirnya tak memakai laptop. Untuk ngeblog pun saya menggunakan ponsel, termasuk urusan gambar.

Semua berlangsung bertahap, serasa alami. Saya mencoba becermin, rupanya saya bosan dengan pengingat berupa sembulan pada layar maupun terlebih-lebih jika disertai dengan nada pengingat. Pada saat masih bekerja, sembulan dan nada itu perlu, misalnya jam rapat bahkan kapan harus menelepon seseorang. Hal sama untuk hari ulang tahun sejumlah orang. Ponsel dan komputer memberi tahu.

Perasaan ingin bebas dari aneka jadwal, termasuk tenggat membayar ini dan itu, membuat saya selama sekian tahun tak terikat pada kalender ponsel maupun komputer. Ada akibatnya sih, saya bisa lupa hari maupun tanggal.

Maka kini karena berurusan dengan layanan medis untuk istri, saya merasa lebih memerlukan kertas. Padahal ada aplikasi ponsel untuk layanan medis. Namun ketika semua hal ada dalam satu gawai, berganti layar itu merepotkan untuk mengingat. Ada unsur faktor U juga sih.

Kalau ingin mengetahui suatu tanggal, padahal di dekat saya ada kalender, saya memilih meraih kalender daripada melongok Google Calendar dalam ponsel. Misalnya ada yang harus saya catat, lebih baik menandai tanggal pada kalender. Kuno? Memang.

Apa yang saya ceritakan tadi lebih banyak menyangkut agenda, apa yang akan saya lakukan. Ada juga yang tak saya catat di kalender melainkan pada kertas pengisi majalah dinding.

Sudah lumrah jika pintu kulkas setiap rumah tangga menjadi bulletin board. Tanggal pembelian elpiji saya catat di kertas itu. Mendekati gas habis, saya bisa berjaga-jaga.

Catatan pembelian gas — Blogombal.com

Berhasil? Tidak. Tetap bisa lupa. Panci sudah disangga api, tahu-tahu gas habis. Untuk pengingat durasi mengukus sarapan pun saya menempelkan timer analog para badan kompor, yang tak dapat terdistraksi seperti halnya timer pada ponsel.

Manfaat timer dapur — Blogombal.com

Saya menoleh ke masa lalu. Saat masih sekolah saya punya notes untuk mencatat aneka hal. Ketika kuliah dan kemudian bekerja saya punya buku agenda saku. Kemudian komputer ber-Windows menggantikan hal itu.

Selanjutnya ada smartphones, dimulai dari Epoc, PDA, Symbian, lalu Blacberry, dan kemudian Android. Mulai Symbian, semuanya bisa disinkronisasikan dengan komputer. Saat itu Microsoft Outlook, dan aplikasi web Plaxo, sangat membantu untuk menjaga kalender dan buku alamat serta alamat email kontak.

Kemudian ada layanan Google, keterhubungan antarperanti bukan masalah. Ganti ponsel dan komputer tak ada kendala.

Akhirnya semua merepotkan justru ketika saya mengandalkan ponsel. Notifikasi tiada henti, tetapi kalau semuanya disetel senyap kadang merugikan. Di sisi lain ada saja aplikasi dan layanan bandel yang meskipun sudah disuruh diam tetap bisa aktif lagi.

Salah satu sumber notifikasi yang melelahkan adalah dari WhatsApp, terutama grup. Solusinya mudah sih, cabut dari grup. Namun hal itu tak saya lakukan karena kadang masih perlu. Walhasil cara kuno dengan kertas dan menulis masih berfaedah.

Walakin demikian saya belum berani kembali ke feature phone. Bagaimana kalau tanpa ponsel, apa pun sistem operasinya?

Saya bukan presiden yang cukup mengandalkan tablet, sedangkan urusan selanjutnya ditangani lingkar kecil kekuasaan di bawah saya. Merekalah yang menyaring segala hal, termasuk permohonan menteri tertentu, dan pejabat selevel menteri, untuk menghadap. Tukang mi goreng dan penjual sayur keliling tak membutuhkan protokol untuk ke rumah saya.

2 Comments

mpokb Kamis 9 April 2026 ~ 19.45 Reply

Tos, Bang Paman. Sampai sekarang saya masih mencatat ini itu di kalender dinding berangka besar2 itu. Bahkan tanggal ganti seprai pun tercatat di kalender 😂🙈

Pemilik Blog Kamis 9 April 2026 ~ 23.19 Reply

Ada artefak 👍💐💌

Tinggalkan Balasan