
Sepeda motor dengan dudukan khusus dari besi untuk lima galon Aqua — dua di kanan kiri, satu di tengah — itu datang, penunggangnya langsung memberikan secarik sobekan kertas. Setelah itu dia menurunkan muatan.
Kertas itu adalah setruk. Tanpa tanggal, sonder paraf apalagi cap. Bagi saya bukan soal. Saat mengantarkan elpiji, si kurir juga menyerahkan kertas berisi informasi sekadarnya, yakni nama barang selain alamat saya. Tak jelas, itu bukti pemesanan ataukah pembayaran.
Saya terbiasa memesan air minum dan gas dari warung ini secara daring. Maksud saya melalui WhatsApp dengan mengirimkan pesan, lalu si penerima menanggapi dalam arti menyanggupi. Pembayaran bisa via Gopay, dalam arti mentransfer ke rekening dia di bank, karena dia tidak punya e-dompet, dan bisa juga COD. Artinya lebih maju warung sayur dan bubur kacang hijau tetangga saya yang memanfaatkan QRIS.

Bagi saya, setruk dengan tulisan tangan masih menarik. Sayang saya tidak bisa grafologi. Saya tak tahu apakah Sapta Dwikardana, dosen hubungan internasional Unpar, Bandung, yang ahli grafologi, ayah dari Rara Sekar dan Isyana Sarasvati, suka iseng baca setruk tulisan tangan. Kenapa saya tertarik? Karena semua dokumen kertas sekarang cetakan teks oleh komputer.
Perihal setruk ini, dan sebelumnya, sang penjual selalu memanfaatkan kertas bekas. Hemat. Ramah lingkungan. Untuk setruk kali ini, lembar sebaliknya adalah tabel yang saya simpulkan dari kertas laporan keuangan di gereja.


4 Comments
Di sini sdh tak beli merk Aqua lg, kyk barang impor, lebih mahal dari merk lain
Pricing policy. Konsumen juga harus menanggung sebagian biaya promosi. Brand equity ada harganya 🤣
saat mudik ke Indonesia tahu 2022 silam, saya transit di Singapura dengan maskapai Singapore Airlines. entah kenapa, dari Berlin ke Münich lalu ke Singapura sebelum ke Jakarta, boarding pass saya tidak bisa dicetak, dan kata petugas di Berlin nanti bisa minta saat transit di Changi. samapi Changi, ternyata tidak ada pencetakan boarding pass baru. ternyata tidak hanya saya. beberapa penumpang dari Frankfurt, sesama orang Indonesia juga mengalami hal yang sama. oleh petugas, boarding pass-nya ditulis tangan. sekelas Singapore Airlies, padahal. 🤣
Ajaib bener.
Tapi jadi artefak berharga itu, Zam. 😇