
Tumben banyak anak di di sekitar polder tadi siang, sekira pukul satu. Mungkin karena hari libur, dan mereka sudah makan siang, maka anak-anak dari kampung atas itu bermain di sekitar polder.
Tiba-tiba saya melihat mereka berebut sesuatu, saling dorong dan sikut. Ada satu dua anak melompat, tangannya menggapai udara di atas. Ketika ada anak menonjok temannya yang memegang ikan, saya baru tahu apa yang mereka perebutkan.
Dari bawah, dasar polder yang airnya telah dikuras, ikan seukuran telapak anak dilemparkan ke atas oleh petugas pematusan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kobek, Jabar. Petugas menjala ikan, lalu menampungnya dalam karung plastik. Sebagian ikan dilemparkan ke atas.

Air berlumpur di polder itu hitam kotor dan bau. Ikan yang ditangkap anak-anak juga demikian. Karung ikan yang diangkat dari bawah juga hitam, lalu setibanya di atas, dekat rumah pompa, petugas menyemprotkan air dari selang ke karung, dan kemudian ke tumpukan ikan setelah dipindahkan ke drum plastik.
Seorang anak perempuan menawari saya ikan, “Satu lima ribu, Pak.” Saya membayangkan setelah jadi lauk, ikan itu tetap beraroma lumpur. Kalau ikan tawar dalam kolam terpal maupun bak beton tak begitu rasanya. Ah, mungkin tergantung bagaimana mengolahnya agar bau lumpur berkurang. Yang penting anak-anak gembira.

Pematus polder bilang, ikan yang lebih besar dari jatah anak-anak itu adalah mujair. Saya tak dapat membedakannya dari nila. Entah ke mana lelenya, biasanya dipancing.
Kalau benar mujair, hebat anak-anak itu. Telapak tangan dan jari tangan saya pernah terluka saat memegang mujair karena siripnya keras dan tajam saat mengembang. Memegang lele saya takut kena patil. Sudah diajari, saya tetap takut.
Mujair (Oreochromis mossambicus) berasal dari Afrika, mulanya dibudidayakan oleh Pak Mujair di Blitar, Jatim, pada 1939. Ikan mujair masih berkerabat dengan ikan nila (Oreochromis niloticus, Nile tilapia), juga dari Afrika, yang masuk Indonesia pada 1969. Menurut sejumlah sumber begitu. Pembudidaya awal nila bukan Bu Nila.


4 Comments
Pantesan mujair dan nila mirip banget, ternyata masih saudara tho 😀
Btw, semoga ikannya masih aman dimakan yak..
Semoga. Tapi air polder dari kali yang polutif. Piyé jal?
Jaman Dulu perjalanan kapal yang hanya laju sekadarnya tentu tak secepat Sekarang yg Sampai 30an knot, tentu butuh waktu yang tak sebentar. Tilapia memang tak asking Lagi bahkan Di Timur tengah. Tapi yg bakal Lebih menarik adalah gimana ceritanya si pak mujair itu Bawa bibit Dari Afrika?
Apakah itu hanya statement politics ekonom jaman Dulu saja atau pak muhajir Masih samudra dengan nixau the god must be crazy atau Dia intelejen front Afrika Timur yg sengaja kesini mempersiapkan peristirahatan terakhir buat the Reich Di garut?
Itu yang saya gak paham. Ikan tawar dari Mozambik kok sampai pantai Blitar.