Kepatutan dapur pakar BGN

Apa pun jabatannya, kalau orang BGN punya dapur MBG itu harus kita persoalkan.

▒ Lama baca < 1 menit

Kontroversi dapur MBG milik pakar BGN — Blogombal.com

Menyedihkan, anggota Dewan Pakar [1] Badan Gizi Nasional Ikeu Tanziha punya satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Artinya dia punya dapur MBG. Sangat terbuka peluang terjadi konflik kepentingan.

Maka publik pun kesal, dan menghubungkan pembelaan Ikeu terhadap dapur MBG berbelatung dengan posisinya sebagai petinggi BGN sekaligus pemilik dapur. Dia membela diri bikin dapur seizin Kepala BGN siapa itu, agar tahu masalah SPPG termasuk dalam higiene makanan.

Ini memprihatinkan. Kenapa bos entah siapa itu mengizinkannya? Ikeu, seorang profesor ilmu gizi, mestinya paham bahwa hal itu tak patut karena rawan konflik kepentingan dan sorotan negatif yang tak menguntungkan BGN.

Kontroversi dapur MBG milik pakar BGN — Blogombal.com

Akan lebih bijak dan masuk akal jika BGN bikin dapur model atau percontohan, yang dikelola transparan, bahkan biaya pembuatan dan operasi dapur lengkap dengan standar harga Jakarta pun dinyatakan. Untuk bikin dapur silakan tanya anak Solo yang juragan katering. Kalau untuk katering industrial yang gede, tanya Pak Brewok.

Tentu tata kelola dapur harus jelas, termasuk pengendalian mutu sayur sejak dari kebun sampai baki makanan pun sesuai standar — begitu pun kebersihan wadah. Demikian pula untuk sumber hewani sejak A sampai Z. Kalau sudah ada, fungsikanlah. Begitu pun di BGN daerah.

Lalu hasil dapur model, seperti rumah contoh pengembang perumahan, itu untuk siapa? Untuk ngempanin orang BGN, dari paling atas sampai paling bawah. Bakal mblenger dan eneg? Jangan mengeluh, aja sambat, apalagi via media sosial. Mestinya bersyukur dapat makan siang gratis.

View this post on Instagram

[1] Hingga kini saya tak tahu siapa saja dalam Dewan Pakar karena situs BGN pagi ini tak menyajikan info apa pun.

Kontroversi dapur MBG milik pakar BGN — Blogombal.com

¬ Sumber foto praolah untuk featured image: IPB

4 Comments

Ndik Senin 29 Desember 2025 ~ 19.00 Reply

Kita tidak menafikkan ada dapur mbg yg bagus, dengan Mutu produk Dan pelayanan yg bagus, apakah Ini juga hasil Dari para pakar itu? Kembali ke problem utamanya, sistem kontrol, ketika pengampu kepentingan yg bertugas menjadi pengontrol malah Masuk Di kubangan. Lupakan tentang Mutu yg akan dijaminkan. Problem yg dihadapi si pengampu akan berbeda Dari hanya ngontrol Dan atau nyacat menjadi berlipat Mikir dapur orang puluhan hingga ratusan pegawainya yg butuh Makan, Dan pemodalnya yg butuh profit.
Beberapa waktu Lalu tak hitungan semester, ada ngobrol dengan pemodal Dari luar yg ingin ikut Masuk untuk menjadi hulu dan hilir mbg. Mereka benar2 meyakinkan Kita untuk membantu Ini Dan Lebih menitik beratkan pada benefit social. Bahkan sedikit banyak secara lisan memetakan kerugian Dari tahun2 Awal jika approved beroperasi. Ya, mereka butuh portfolio untuk keperluan sustainability goal si kumpeni. Saya sambil Lalu saja. Mereka tampaknya Masih berharap untuk ini, tapi ya Kita Sama Sama Tahu nanti calon kesulitannya.

Pemilik Blog Senin 29 Desember 2025 ~ 19.43 Reply

Bahkan kita mau kerja bener pun tetep ada yang pengen gabut dapat rezeki, padahal nama kita bukan Sri Rejeki

Junianto Senin 29 Desember 2025 ~ 16.12 Reply

Kayaknya ini motifnya cuan (yang katanya gede) untuk pemilik SPPG, ya, Paman. Sehingga ibu profesor siapa itu jadi abai adab.

Tinggalkan Balasan