
Ada orang yang menyebut saya seperti anak kecil, punya rasa ingin tahu berlebihan terhadap sesuatu, terutama untuk hal yang tidak penting. Sebagian benar, tetapi setelah saya kian menua curiosity itu memudar. Memang sih masih bisa muncul secara acak. Misalnya tadi sore, saat membaca punggung kaus seseorang yang tak saya kenal: PPKG PJOK. Itu apa ya?
Lalu saya diam-diam memotretnya dari bangku saya. Dia sedang berbicara dengan kasir kedai. Sebenarnya ponsel menyediakan jawaban lebih lekas. Manfaatkan saja layanan lama Google Lens maka akan terjawab. Layanan AI macam Meta AI di WhatsApp juga bisa membantu. Namun sering kali tak saya manfaatkan secara langsung setelah memotret.

Saya biarkan gambar mendekam dalam ponsel. Kalau nanti ingat, saya akan mencari tahu seperti tulisan pada kaus itu. Tetapi lebih sering gambar akan saya hapus. Kalau setiap kali memotret lalu saya segera mencari tahu tentang sesuatu, hidup saya hanya akan melihat ponsel. Tak semua hal harus berupa jawaban segera.
Lalu PPKG PJOK itu apa? Malam ini saya mencari tahu. Ternyata itu abreviasi untuk Program Pengembangan Kompetensi Guru untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Jadi, pemakai kaus ini mungkin guru OR/penjaskes. Apakah setelah tahu saya akan ingat selamanya? Entahlah.
Jangan-jangan kawan saya benar: terlalu banyak hal tak penting dalam kehidupan ini, maka kita tak perlu tahu karena bukan urusan kita. Kita tahu tak menjadi pintar, kita tak tahu bukan berarti bodoh. Tetapi info kaus ini memperkaya saya — setidaknya untuk sesaat.


3 Comments
Kadang rasa ingin tahu memang mengasyikkan, seperti saat melihat kaus dengan tulisan unik.
Orang Indonesia, terutama menyangkut kedinasan dan pendidikan, suka banget bikin akronim. Kalau dihimpun bisa tuh dijadikan kamus akronim 😀
Masalahnya, banyak kata bentukan dengan pola imbuhan awal dan akhir pe-an, ke-an, dari kata dasar verba maupun nomina. 😇
Kalo dibikin abreviasi bakal sama.
Bahasa Inggris cuma pakai akhiran