
Ada yang baru tentang es puter mung mung es pung pung keliling kesukaan saya, karena kini penjualnya, Mang Ugan, menggunakan kode QR. “Anak saya yang masang,” katanya. Dia menyebut dagangannya es podeng karena ada versi ditambahi roti, ketan item, dan agar-agar. Seporsi Rp5.000.
Makin banyak golongan tua pedagang yang mengadopsi QRIS, melebihi asumsi saya yang mengira takkan selekas ini. Saya mengabaikan faktor pemercepat adopsi transaksi tunai, yakni anak bahkan cucu dari penjual dan usia konsumen.

Beberapa warung sayur, milik orang sepuh, mengadopsi QRIS karena anak dan cucunya, serta… pelanggan dari kaum ibu muda. Adapun Mang Ugan, selain faktor anak juga karena pelanggan tempat dia mangkal sekitar pukul dua siang, yakni mahasiswa politeknik kesehatan di pinggir jalan paralel JORR, Jatiwarna, Kobek, Jabar, lebih suka nirtunai.
“Anak-anak itu nggak pegang duit kès. Saya ngikutin aja Pak, biar laku,” kata Mang Ugan. Duit pembayaran masuk ke dompet digital Dana anaknya lalu disetorkan ke bapaknya.

Warung pracangan Wawan di dekat saya juga melayani QRIS. Tanpa pembelian minimum, termasuk rokok. Kalau anak muda penjual siomay langganan kami lebih dini menerapkan QRIS karena usianya masih belum 25, pelanggannya banyak bapak ibu muda selain anak-anak muda dewasa. Sejumlah toko tembakau tingwé juga demikian. Adapun kios fotokopi sudah agak lama melayani QRIS, bahkan lebih awal lagi sejak dulu menerima berkas digital via WhatsApp. Soal perlindungan data pribadi? Yeah, gitu deh.
Tadi pagi saya jalan kaki ke Pasar Kecapi. Di warung sayur, karena penjualnya seorang ibu muda, sudah menggunakan QRIS. Lalu saya berpikir, sebenarnya lebih banyak mudarat ataukah maslahat, karena kolekte di gereja dan sumbangan amal di masjid pun sejak pandemi bisa memakai QRIS?

Setiap orang punya jawaban. Sejumlah lansia tak menggunakan QRIS, bahkan kartu debet, karena lebih nyaman dengan duit tunai — maka mereka bisa berbelanja di TikTok dengan COD. Namun saya rasa semua orang sepakat dalam satu hal: kini duit pecahan di bawah Rp2.000 itu sulit.

Kalau saya lebih simpel saat membayar parkir tanpa penghitung waktu: minta uang kembalian. Adapun menukar uang kertas menjadi koin kepada Pak Ogah sulit saya lakukan karena akan membuat macet jalan.
Eh, bagaimana melafalkan QRIS? Bank Indonesia, bahkan melalui Gubernur Perry Warjiyo, sampai mengampanyekan via media sosial: dibaca “kris”, bukan “kyu ris”.

¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

5 Comments
lalu perlu juga ada edukasi ada kemungkinan scam dari dari sisi pembeli (terkait qr code)
Sudah terjadi menurut berita. Maka saya menunjukkan layar usai menekan PIN kepada penjual, lalu muncul gambar tepuk tangan kalau di Gopay, kemudian muncul info transaksi
Apakah Indonesia terlampau cepat melompat, Bang Paman? 😀
Beberapa tahun lalu saya heran melihat ponakan dan suaminya yg nggak bisa bayar es krim karena nggak punya duit tunai. Eh ternyata sekarang saya ngalamin sendiri. Urung beli susu kedelai 8.000 perak, karena dompet kosong song 😀
Kayaknya Asia cepat melompat untuk adopsi teknologi, selain faktor denominasi dan inflasi seperti di Indonesia. Lima lembaran Rp100.000 dalam dompet, kalau tiap hari keluar rumah, makan dan minum beli, transportasi gonta-ganti dan bayar, apakah di Jakarta cukup?
Jerman dan beberapa negeri Eropa Barat masih menghargai tunai termasuk koin.
Eh di Jogja bayar parkir motor bisa pake QRIS. Tadi saya baca di Kompas.