
Rahayu Saraswati mengundurkan diri dari anggota DPR karena merasa bersalah atas ucapannya. Pekan lalu, tatkala di media sosial muncul potongan video ucapan Rahayu, sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR, perihal generasi muda jangan berharap lapangan kerja padat karya, karena itu seperti pola pikir zaman kolonial, saya mencari video aslinya. Ketemu, dalam kanal Antara di YouTube.
Saya membatin, dari sisi memompakan spirit kewirausahaan itu tak salah. Sudah banyak tokoh dan motivator bilang begitu. Intinya, jangan hanya berharap ingin beroleh pekerjaan, tetapi ciptakanlah pekerjaan (menit 26.11).
Sebagai legislator yang membidangi antara lain UMKM dan ekonomi kreatif, ajakan motivasional itu tepat. Tetapi dalam video anyep kurang menarik itu, cara dia mengemas pesan menjadi masalah enam bulan kemudian. Ucapan dia adalah teks, adapun suasana batin masyarakat akhir Agustus hingga kini sangat sensitif, termasuk soal lapangan kerja, adalah konteks.
Ketika membahas isu sumir PHK massal di Gudang Garam, pada paragraf penutup saya pun menyebut ucapan dia, bukan dalam kutipan langsung, seperti yang tertayang di YouTube (mulai menit 27.23).
Saya salut, dalam video pernyataan pengunduran diri di Instagram itu Rahayu mengatakan, “Walaupun niat saya sebenarnya ingin mendorong entrepreneurship, terutama di zaman transformasi digital yang membuka peluang seluas-luasnya di dunia ekonomi kreatif, saya paham bahwa kata-kata saya telah menyakiti banyak pihak, terutama yang saat ini masih berjuang untuk menghidupi keluarganya, bahkan untuk masih bisa bertahan hidup.”
Dia juga menyatakan,
“Kesalahan sepenuhnya ada di saya. Oleh sebab itu, melalui pesan ini, saya ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ucapan dan kesalahan saya.”
Meskipun dari kaum menak bersendok perak sejak kecil, Rahayu pasti tahu di Cina setelah ekonomi melamban, banyak anak muda kembali ke rumah orangtuanya, ikut membantu urusan domestik, dan bapak ibunya, atau malah kakek neneknya. Mereka mengupah anak-anak generasi Z itu.
Lalu apa perbedaan pernyataan awal Rahayu dan Ahmad Sahroni? Untuk Sahroni, saya sependapat bahwa DPR itu mutlak perlu, tapi saya kesal cara dia menyebut pihak yang ingin membubarkan parlemen karena jengkel sebagai orang (paling) tolol sedunia. Sangat kasar, tanpa adab, padahal citra DPR sedang terpuruk.
Ucapan Sahroni jika diucapkan awal tahun ini tetap membuat khalayak gusar. Hal itu ditambah gaya Sahroni yang flamboyan, belagu, suka pamer kemakmuran, yang bagi banyak orang citra itu lebih menonjol ketimbang pokok pikirannya sebagai wakil rakyat. Orang lebih mengenal dia sebagai Sultan Priok atau Sultan Jakarta Utara yang pernah main film tanpa tahu apa partainya apalagi komisinya. Sahroni salah dalam mengemas citra diri.
Bahkan pikiran sesat dia sebelumnya, yang mengatakan jika KPK akan menangkap politikus sebaiknya memberi tahu pemimpin partai, itu sudah membuat publik berang. Ingat, politikus yang genah itu paham masalah masyarakatnya. Citra Sahroni tak seperti itu, terlepas dari dia juga mungkin banyak beramal.
Soal teks dan konteks Rahayu mirip keluhan Uya Kuya. Dia berjoget dalam video sudah lama, dan bukan untuk mensyukuri tunjangan rumah. Tetapi karena suasana batin publik sedang kesal terhadap DPR maka Uya, juga Eko Patrio, jadi bulan-bulanan. Padahal kata sejawatnya di Senayan, Rieke Diah Pitaloka, Uya dan Eko bekerja dengan baik. Tentu saya menentang penjarahan rumah mereka, siapa pun pelaku dan penggeraknya karena hal itu adalah kejahatan. Penjarahan juga mendatangkan rasa waswas bagi warga lain.
Tentang Rahayu, kesan saya selama ini dia cerdas, berwawasan, paham masalah yang dia tangani di parlemen, apalagi sebelumnya dia berkiprah di ekonomi kreatif, bahkan hingga kini menjadi penasihat bisnis rintisan. Dia berpikiran maju, misalnya memberikan hak cuti ayah di perusahaannya saat istri mereka melahirkan.
Keluarganya, melalui yayasan Arsari Djojohadikusumo, membantu masyarakat dalam banyak hal, sejak seni budaya hingga beasiswa. Atas dukungan Arsari pula masyarakat bisa menyerap kemasan sejarah Diponegoro dari Peter Carey dalam sejumlah bentuk. Memang sih, Hasyim, ayah Rahayu, pernah terbelit kasus benda purbakala.
Rahayu mengundurkan diri dari DPR itu baik. Di DPR, sebagai bagian keluarga bohir politik, dia tak mencari rezeki. Partainya yakni Gerindra, harus memperlancar urusan itu, tak memarkirnya sebagai legislator berstatus nonaktif. Rahayu juga tak perlu berharap dapat ikut merampungkan PR kelak sebagai bekas anggota DPR. Masih banyak lahan untuk berbuat, Mbak.
¬ Foto: akun Instagram Rahayu Saraswati

2 Comments
Keputusan tepat, ada baiknya pengusaha menjaga jarak dari kekuasaan. Sekarang yang banyak terjadi, pengusaha masuk partai politik, lalu ikut menyusun regulasi.
Itulah potret oligarki, yang main bukan hanya pengusaha oli