Humor polisi perihal pungli

Bagi polisi, penyebab praktik pungli adalah masyarakat. Polisi hanya korban bujukan.

▒ Lama baca < 1 menit

Polisi Musi Rawas: penyebab pungli adalah masyarakat — Blogombal.com

Apakah foto ini asli, saya tak mencari tahu. Demikian pula soal kapan foto ini dibuat. Yang saya tahu, foto ini beredar di media sosial, misalnya di X. Andai kata foto ini faktual, maka lengkaplah tawa saya. Foto palsu saja memantik geli apalagi kalau asli.

Niat sebuah korps untuk membenahi diri, dan dinyatakan kepada publik melalui spanduk, tentu baik. Layak dipuji. Polisi mengajak masyarakat mengawasi.

Memang, pungli sebagai bagian dari suap-menyuap atau sogok-menyogok itu bersifat resiprokal. Jika inisiatif datang dari peminta suap, termasuk polisi, itu lebih dekat ke pemerasan.

Bagaimana dengan kalimat dalam spanduk ini? Sepintas terkesankan santun dan lembah manah. Namun jika kita cermati, inti pesannya adalah masyarakat sebagai determinan.

Coba, kalau bunyi spanduknya semacam “Jangan mau jika kami melakukan pungli!” Lebih tegas dan jelas — ehm, seperti judul presentasi, dari sisi kebahasaan tak salah namun terasa formal ala slogan komandan. Boleh juga, “Tolak kalau kami memungli Anda!” Semoga tak ada tangan jahil menambahkan coretan, “Tapi risiko ditanggung sendiri.”

Dalam bahasa lain, ala iklan, pesan spanduk polisi bisa berupa kalimat ringkas, “Jangan mau dipungli polisi!” Siapa yang diminta jangan mau, itu diskusi guru bahasa dan murid dalam kelas, termasuk soal pungli itu kata benda atau kata kerja.

Slogan kuat dalam iklan yang pada mulanya terasa wagu, namun akhirnya meresapi benak khalayak, adalah iklan layanan perpesanan melalui penyeranta, pada abad lalu: “Kalau ada penting, Starko saja!” Cergas juga si penulis wara (copywriter).

Bilbor di jembatan penyeberangan juga memuat slogan itu. Jenama menjadi kata kerja. Seperti di Amerika dulu, merek mesin fotokopi Xerox menjadi kata kerja, “Could you please xerox this report?

Kembali ke spanduk polisi Musi Rawas, Sumsel, bagaimana jika bertuliskan “Katakan Tidak pada Pungli!”? Masyarakat malah tarkekeh-kekeh skeptis akibat memori traumatis tentang video iklan Partai Demokrat.

Tinggalkan Balasan