
Siang ini di sebuah ruang tunggu ada setumpuk majalah gaya hidup. Tentu majalah lawas karena era media cetak sudah terlewat. Salah satu yang saya temukan adalah Emerald, untuk nasabah premium BNI, edisi awal 2017.
Saya tak tahu nasib semua majalah gratis korporat sekarang bagaimana. Untuk kepentingan internal mungkin masih ada yang terbit, dengan isi membosankan mirip isi ceramah motivator dan tip hidup sehat seimbang, serta tip atur keuangan, yang diambil dari media sosial.

Adapun untuk kalangan luar, seperti nasabah bank terbatas, apakah majalah gratis, semewah apa pun, masih menarik? Untuk importir arloji dan perhiasan, majalah gratisan tampaknya masih perlu karena ceruk pasar mereka loyal, dan mereka ingin saling tahu kabar karena tak setiap hadirin dan hadirat pesta eksklusif sudi membagikan presensi diri di media sosial. Banyak orang tajir tulen tak suka pamer.
Nah, misalnya banyak majalah internal gratis tutup, berarti ada cukup banyak penulis, fotografer, dan desainer grafis yang kehilangan pekerjaan. Mereka ini bekerja di biro-biro penerbitan, sebagian di antaranya dalam biro kehumasan.
Bekerja di majalah gratis itu enak, tak memikirkan tiras maupun retur, sepanjang kontrak dengan klien masih diperpanjang berarti aman. Kalau klien ngedumel itu biasa. Yah, setiap hal ada masanya. Disrupsi peta bisnis tak terhindarkan.


7 Comments
Yang saya tahu, Majalah Prioritas masih diterbitkan oleh BCA buat nasabah Prioritas dan Solitaire BCA, dikirim ke rumah nasabah pakai kurir, tapi saya lupa terbitnya tiap enam bulan atau tiap tahun.
Bukannya empat bulan sekali? Dulu ada info version web pula
Nah itu yang saya lupa, tiap berapa bulan terbitnya.
Di kover majalahnya pun tidak tercantum hari dan bulan. Edisi terbaru hanya tertulis Edisi 104/XXI/2025.
Saya malah Mikir majalah ginian itu solusi untuk mempertahankan atau meningkatkan traffic media online, anggap Kita berkutat di depan laptop setiap haripun butuh escape sekali untuk melihat sesuatu yang nyata. Apalagi free Dan menjangkau Luas rak ketang Sak iprit2 tiap spot
Media yg tercetak itu punya prestige tersendiri, terutama untuk person (yg tidak terafiliasi dengan media itu tentunya) yg Jadi kontennya.
Om kapan2 tak nyuwun advise untuk ini
Kayaknya majalah emang bakal tamat semua soalnya repot bawanya. Yang jadi tantangan gimana bikin majalah web yang interaktif untuk tablet, bukan ponsel.
Kalo perlu bisa customize bagi user.
Saya masih menikmati baca Colours, inflight magazine Garuda dan Linkers inflight magazine Citilink. Biasanya saya temukan dalam keadaan rapih di kantung depan tempat duduk. Keduanya juga bisa diunduh dari aplikasi ponsel.
Kalau maskapai penerbangan masih bikin majalah terbang. Untuk taksi Blue Bird saya nggak tau masih apa nggak.
Pemred Citilink dulu fotografer teman kita, seorang ibu. Gak tau sekarang. Dia yang motret saya untuk blognya.