
Ini soal sudut pandang. Saya dan umumnya orang menyebut bangunan ini rumah yang belum selesai. Ada segaris optimisme yakni kata “belum”. Nanti jika syarat terpenuhi akan berlanjut lagi.
Banyak sebab mengapa pembangunan rumah terhenti. Yang lazim adalah dana untuk marampungkan tak mencukupi. Ada juga karena regulasi, pemerintah daerah menyegel bangunan karena masalah perizinan.
Saya pernah mengalami. Pembangunan rumah terhenti setelah genting terpasang, lantai masih semen pating prongkal, kusen jendela dan pintu belum terpasang. Bangunan menjadi rumah burung dan codot selama empat tahun, 2002—2006. Untunglah ular tak termasuk. Genting bisa terpasang karena memanfaatkan atap rumah lama sebelum dirobohkan. Penyebab proyek terhenti karena dana.
Selama rumah belum jadi, saya sekeluarga tinggal di kontrakan, sebuah rumah yang baru direnovasi, tak sampai sejauh 200 meter, yang saya sewa dengan murah, dan kami tahu diri sebagai orang menumpang selalu merawat rumah tersebut. Si pemilik yang tinggal di Jakarta rupanya menugasi orang untuk memantau. Rumah selalu semilak. Kerusakan kecil saya perbaiki, tetapi itu pun jarang terjadi.
Ketika kami pamit, karena akan menempati rumah sendiri, tuan dan nyonya pemilik rumah kontrakan malah menawari saya untuk membelinya, harga bisa nego termasuk pengangsurannya. Saya menolak karena tak ada uang, sudah habis untuk merampungkan rumah sendiri. Mereka memang punya beberapa rumah, dan menganggap rumah yang itu cocok untuk kami — bahkan rumah kami sudah mereka pagari secara magis.
Dia tawarkan pula salah satu dari beberapa jip Mercy miliknya, yang dulunya untuk mengawal presiden, untuk saya oper murah, dengan jaminan kalau saya butuh montir bisa memanfaatkan teknisi di garasinya. Tentu juga saya tolak. Terlalu mewah untuk saya. Semua BPKB jip itu dulunya atas nama para kepala staf angkatan secara ex-officio.
Tetapi apakah semua orang seberuntung saya, bisa menyelesaikan pembangunan rumah dengan mendapatkan kontrakan rumah dua lantai selama empat tahun, berharga murah? Saya harus mensyukuri hal itu. Banyak hal dalam hidup ini yang harus kita syukuri.
Bagi banyak orang, rumah itu barang yang teramat mahal. Untuk memilikinya harus berjuang keras. Ibarat kata kudu banyak puasa. Hanya sedikit orang yang setelah menikah langsung punya lebih dari satu rumah tanpa mengangsur, bahkan membayar tunai pun tidak. Rezeki setiap orang berbeda-beda.
Teman saya dulu mendapatkan sebuah rumah baru, di lokasi bagus, diwakili sebuah kunci pintu, sebagai kado pernikahan dari seorang konglomerat raja properti.
Rumah. Tempat tinggal. Milik sendiri. Selalu menjadi masalah di negeri mana pun. Ada yang hanya janji pemerintah namun terasa utopis, ada yang bersubsidi tetapi akhirnya jadi rumah mangkrak berderet karena niat pembeli untuk investasi dan spekulasi, alias salah sasaran.
Bersyukurlah orang yang akhirnya memiliki rumah sendiri. Pengeluaran terbesar di banyak rumah tangga adalah untuk rumah dan pendidikan anak. Setelah pensiun, dua urusan itu baru selesai, namun banyak juga yang setelah tak bekerja di hari tua masih harus mengangsur rumah dan menyekolahkan anak.
Ada sih yang berpendapat jangan kawin, kalau pun kawin tak usah punya anak. Beda orang beda alasan. Konon salah satu dorongan irasional manusia adalah kawin dan punya anak. Ini naluri makhluk, harus makan dan minum untuk mempertahankan hidup, dan berkopulasi untuk berkembang biak agar spesies kaumnya tak punah. Primitif, memang.
Karena dorongan primitif, sebagai naluri yang tentu intrinsik atau melekat, manusia tak punah. Dalam pejalan evolutifnya, manusia yang dibekali akal budi bisa menata kehidupan bersama. Termasuk dalam perkawinan, yang diresmikan dengan pernikahan¹, yang misalnya menjadi opsi, tak berarti manusia menjadi hamster yang berkembang biak pesat, setiap malam dalam kandang kawin terus, dengan betina yang masa suburnya entah bergiliran entah bersamaan; tetapi masa subur mereka konon empat hari sekali.
Hamster tak butuh uang. Inses bukan masalah karena mereka tak punya norma. Tetapi di alam bebas mungkin mereka tak menjadi korban inner breeding. Manusia tak mungkin melakukan prokreasi demi anak yang terus lahir. Mungkin unsur rekreatif dalam seks tak dikenal oleh satwa.
Maaf, lamunan saya saat ngeteh sore di teras dengan jenang Kudus terlalu jauh. Semuanya bertolak dari memotret rumah yang belum selesai dibangun, di lokasi yang berbeda, dan saya lancar melantur melalui Jetpack di ponsel.

¹) Maka nama hukumnya di Indonesia adalah UU Perkawinan, bukan UU Pernikahan, karena perkawinan adalah lembaga atau pranata sosial. Status dalam administrasi kependudukan adalah kawin dan tidak kawin, bukan menikah dan tidak menikah. Namun dalam kehidupan masyarakat, terasa lebih sopan menyebut menikah tidak menikah.


6 Comments
Setelah dua kali mengontrak akhirnya kami (saya dan istri) memutuskan membeli sebuah rumah kecil yang kami tempati sampai sekarang.
Waktu itu, dalam perjalanan pulang kembali ke kontrakan setelah menengok proses pembangunan rumah, anak saya bertanya bagaimana nanti cara membawa rumahnya pulang 😀
Beli camper van saja. Tapi mau parkir di mana? Lalu urusan sanitasi bagaimana? 😂
Setelah menikah, saya dan istri memutuskan untuk tidak menumpang dengan orang tua atau saudara. Kami kost, satu kamar, satu tempat tidur, dan satu lemari pakaian dari plastik. Anak pertama lahir, kami memutuskan untuk mengontrak rumah, dua tahun, lantas memutuskan membeli rumah di kompleks perumahan yang sampai sekarang saya tinggali ini. Sejak tahun 1995. Perumahan saya dahulunya agak terpencil, lewat jam 8 malam angkot sudah jarang sekali. Sekarang, dari rumah ke pintu tol terdekat hanya kurang dari 5 menit, dan kalau mau dari pintu tol itu saya bisa terus berada di jalan tol sampai Probolinggo. Perumahan saya relatif tenang, tidak riuh dan terkadang masih disinggahi kabut pagi.
Saya sangat beruntung karena mempunyai tempat tinggal yang baik, bisa bebas dari segala macam cicilan dan anak-anak sudah mandiri sebelum saya pensiun. Saya sangat mensyukuri hal ini.
Betul, Lembah Pandan itu nyaman, sejuk. Kedua kali saya ke sana, makan siang bersama tuan rumah, 2014, naik angkot dan sambung ojek. Ya ampun jauh amir. Pulangnya jalan kaki sampai jalan raya, duh olahraga beneran. 😂
Saya dulu setelah nikah bawa istri ke kos saya, kamar agak besar, dengan satu bilik kecil untuk barang. Ada lemari kayu dan lemari plastik ritsleting. Kayaknya sdh lumrah, banyak orang ngalami gitu 😂
Ini systemic thinking, sebutan yang Lebih sopan Dari Bahasa maroko “pikiran nggladrah”.
Berapa Kali Harga Rumah jika dihitung Dari basic salary alias umr.
Kita stuck di antara berpikir asset Dan berpikir non asset.
Ilmu mending mending dapat twisted dengan mudah disini.
Gimana dengan Anak. Meski belum punya Anak, Saya bisa merefleksikan berapa Mahalnya diri Saya dari bayi hingga sekarang. It’s a gift to be their son. Proud of it. Itu value yg nggak akan pernah bisa terbalas
Betul, diri kita itu mahal. 🙏😇