Kaus Kompas X Dagadu untuk siapa?

Kompas itu koran tua. Dagadu adalah kaus masa lalu. Mereka berkolaborasi.

▒ Lama baca < 1 menit

Kolaborasi kaus Kompas dan Dagadu — Blogombal.com

Karena bukan ahli komunikasi pemasaran, saya bingung untuk memahami iklan kaus kolaborasi Kompas dan Dagadu. Itu untuk siapa?

Saya berpengandaian orang berusia 45 tahun ke bawah tak membaca koran, dan mereka tak mengalami masa jaya Dagadu sampai muncul bajakannya.

Dari sisi bahasa, iklan ini seperti blog saya: bertutur dalam gaya wong tuwèk, berusaha tertib, sehingga kaum milenial merasa asing dengan konten saya. Generasi yang lebih belia apalagi, mungkin membatin, “Bokap gue aja ogah baca blog aneh itu. Blog tuh barang aneh, apalagi isinya.”

Andaikan kaus ini untuk 50+, apakah mereka masih tertarik? Di sisi lain, iklim bisnis kaus sudah berubah. Ini zamannya printing on demand, pesan sepotong pun bisa, termasuk logo jenama favorit tanpa seizin pemilik hak cipta. Di dalamnya ada juga logo band tua dan sampul albumnya.

Tentu, meskipun tak berminat, saya berharap kaus ini laku. Untuk teks dalam iklan, karena tak terbaca dalam ponsel Anda, baiklah saya salinkan:

Kompas berkolaborasi dengan jenama (brand) busana lokal yang legendaris, Dagadu, untuk menghadirkan merchandise keren lintas zaman, Kolaborasi Kompas x Dagadu memadukan nilai masing-masing jenama, di mana konsistensi dan transparansi Kompas berbaur dengan keunikan warna dan kata-kata khas Dagadu. Semangat itulah yang terus menjaga nyala api kedua jenama tersebut.

Kalau kaus ini laku keras semoga takkan dibajak. Omon-omon soal pembajakan desain, sebelum ada cetak digital hal itu sudah berlangsung. Kini dengan kemajuan teknologi, siapa pun bisa meniru kaus orang lain.

Kompas pernah melaporkan, seorang desainer kaus yang dibajak malah dirisak oleh pendengung pro-pembajak yang punya lapak di TikTok.

Ilma, sang desainer, mengatakan, “Waktu itu gue posting video yang mengungkap pencurian oleh lapak itu. Malah gue yang diserang, ngata-ngatain gue yang salah.”

Salah satu pendengung mengaku dibayar Rp2 juta, lalu minta maaf kepada Ilma. Akhirnya dia membiarkan toko pembajak itu melenggang, padahal sudah menjual 700 helai kaus dengan laba Rp60.000 per helai (Kompas.id, 6/6/2025) .

Hubungan kaus Kompas x Dagadu dengan berita itu apa? Sejauh saya tahu liputan mendalam Kompas tentang bisnis buzzer yang angkanya sampai miliaran rupiah itu, berikut serangan mereka terhadap desainer kaus, tak bergema di media sosial.

Penting dan menarik bagi Kompas belum tentu begitu juga bagi konsumen informasi.

Merchandise Kompas untuk siapa? — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan