
Sudah 32 tahun saya bermukim di kompleks ini. Namun baru sore itu saya tahu ada jalan tembus di pinggir kali kotor bau, menghubungkan kompleks dan kampung sebelah. Saya tahu jalan itu setelah bersua seorang tetangga yang keluar dari jalan setapak itu.
Maka saya teringat masa bocah. Seperti umumnya anak masa itu, belum ada ponsel sehingga suka blusukan, saya tahu jalan tembus, termasuk yang memintas kebun, emper dapur, dan tiang jemuran orang. Saya tahu banyak jalan tembus dan tembok yang bolong di sekitar SD saya maupun di rute potong kompas melalui perkampungan saat berangkat dan pulang sekolah.
Setelah dewasa saya malas, tepatnya sungkan, melewati rute tak lumrah. Ada dua percobaan yang saya lakukan untuk memintas setelah dewasa. Pertama pada 1997, belum ada Google Maps, berbekal fotokopian peta Jabodetabek Gunther W. Holtorf, saya ajak putri sulung saya naik taksi ke acara kekahan saudara di Sukatani, Depok. Usai acara mitoni, saya ke rumah sejawat yang sedang mitoni.
Beda kompleks namun dari peta tampak rumah mereka berdekatan, dipisahkan oleh kebun singkong dengan kontur lembah, di bawah kabel SUTET. Daripada memutar jauh mencari ojek, saya memotong kompas: muncul di belakang rumah tujuan dari semak-semak. Anak saya, masih empat tahun, senang. Tertawa-tawa. Merasa diajak bertualang. Saya bisa begitu karena bercelana pendek. Kaki kami tergores duri kecil.
Yang kedua, malam, sekitar 2017, saya dan seorang pakde, beserta istri kami masing-masing, memintas celah di pinggir kanal, untuk sampai ke rumah yang menyelenggarakan kebaktian. Setelah masuk lorong kami sampai di dapur orang. Ternyata jalan tikus sudah ditutup. Setelah itu saya kapok dan tahu diri. Ikutilah, eh berusahalah menurut saya, mengikuti jalan kebenaran dan terang, niscaya dirimu selamat — seperti kata pendeta.


4 Comments
Ada banyak jalan tembus untuk menuju rumah mertua di Jakarta. Jalan yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, naik sepeda atau sepeda motor yang agak repot kalau berpapasan. Pada Hari Raya Haji, kadang jalan ini dipakai sebagai tempat menjagal kambing.
Di sekitar Otista ya? 😇
Saat saya kecil ada satu jalan tembus (melalui halaman rumah orangtua saya) melewati banyak rumah dan pekarangan dalam tiga kampung berbeda.
Sekarang sudah tidak tembus lagi, antara lain karena rumah orangtua saya dijual dan akses jalan tembusnya ditutup, dan banyak bangunan baru yang menutup jalur jalan tembus nan panjang itu.
Betul, tata ruang halaman permukiman sudah berubah antara lain karena kesadaran akan hak privat atas ruang hunian. Di kampung sekitar saya masih ada halaman yang saling berhubungan, tapi lama kelamaan ya berisi tembok.
Rumah saya di Yogya dulu juga begitu karena banyak yang masih saudara.