
Sore tadi jalan itu sepi. Saya tak tahu dua galon air minum di tepi got itu punya siapa. Lalu saya dekati, dan saya intip isinya. Saya tak tahu itu benda apa saja selain menebak itu dari tumbuh-tumbuhan.
Ada yang mirip biji alpukat. Ada yang mirip batok tetapi bukan dari kelapa. Ada yang mirip sabut. Tampaknya itu diambil dari got yang baru selesai dibersihkan. Tetapi mengapa barang-barang itu tak berlumpur?

Oh, misalnya semasa saya bocah sudah ada ponsel berkamera mungkin saya akan memotreti apa pun. Dulu punya suryakanta kecil sudah bahagia. Rasa ingin tahu saya dulu besar sekali, tetapi tampaknya semua anak begitu. Kata para pendidik, kids are naturally curious and have an innate drive to explore, discover, and learn about the world around them.
Waktu masih bocah saya gampang tertarik mengamati apa saja, terutama ketika jalan sendirian. Melihat tukang bekerja itu bikin lupa waktu, dari tukang bangunan, montir, buruh pabrik tahu, pembuat stempel, peternak babi, hingga pandai besi, penjual jamu yang main sulap, dan transaksi di pasar hewan plus perjudian dadu. Kalau bersama teman, dia atau mereka saya ajak, tetapi banyak yang menganggap semuanya biasa, membosankan.
Pergi sendirian selalu lebih menyenangkan. Lebih bebas. Sampai dewasa saya begitu.

9 Comments
Saya sangat suka mengamati tingkah laku hewan di alam, tidak suka melihat hewan yang di kebun binatang, kasihan, tidak tega.
Itu pula alasan saya tak memiara burung. Tapi saya tega miara ikan 🙈
Melihat isinya berupa material organik, saya menduga itu mau digunakan untuk membuat bio enzim (atau apalah namanya?) yang berfungsi seperti pupuk cair?
Oh iya ya. Barangkali dan semoga demikian
Sejak remaja (sampai zaman now) saya suka mengamati segala yang berhubungan dengan trail.
Pernah (lebih dari satu kali) saat berkendara, saya berhenti, lalu masuk ke bengkel yang banyak trail tuanya demi melihat trail-trail itu, hingga kemudian berkenalan lalu berkawan baik dengan pemilik bengkel.
Sip. Itu namanya dhemen srawung 😘
Mengamati tukang ini itu memang seru. Dulu saya paling suka lihat tukang minyak nuangin minyak ke jeriken dan tukang tambal ban sepeda 😆
Btw itu galon mungkin tugas sekolah bocah, Bang Paman?
Sampai dewasa masih suka suryakanta nggak? Dulu waktu kecil saya sering pakai untuk (pura-puranya) meneliti detail prangko. Sekarang sih apa pun difoto aja pakai smartphone, lalu di-zoom in. 😀
Tentu setelah dewasa tidak 😂
Soal smartphone, punya saya yang edisi awal 2012 gak bisa zooming, sehingga waktu ujian ulang SIM pada 2015, karena SIM sudah sekian tahun tamat, saya tidak dapat membaca teks ujian karena lampu kurang terang, teks dalam gambar skema kecil banget. Saat itu saya menyesal gak bawa suryakanta dalam dompet.
Dulu saya punya suryakanta tipis seukuran kartu debit