
Menyambut tahun ajaran baru, Ashlihatul Hidayat, Guru SD Islam Sabilillah Malang 1, Kota Malang, Jatim, menulis artikel di Kompas (Senin, 14/7/2025). Tentang anak didik yang kembali bersekolah setelah libur panjang. Selama libur, anak-anak itu dia andaikan akrab dengan gawai.
Gadget sudah menjadi teman dekat mereka. Game, video, dan tayangan pendek lainnya hadir dalam ritme yang jauh berbeda dengan ruang kelas. Dunia di mana mereka tidak perlu membaca panjang, tidak harus diam mendengarkan, dan tidak harus tertib. Dunia digital menawarkan banyak hal, tetapi juga diam-diam mencuri fokus, sabar, dan rasa ingin tahu yang tenang.
Bukan salah mereka sepenuhnya. Dunia memang sudah berubah. Anak-anak tidak lagi tumbuh dalam kesunyian yang dulu bisa melatih imajinasi. Mereka kini dibentuk oleh kecepatan, oleh notifikasi yang tak henti berbunyi. Dan, saya — guru biasa di sebuah sekolah dasar — harus kembali menjadi jembatan antara dunia itu dengan dunia nyata, tempat belajar berjalan pelan.
Ada rasa cemas, tentu. Bagaimana memulihkan motivasi mereka? Bagaimana mengajak mereka kembali menyukai proses belajar? Apakah cerita-cerita saya masih mampu bersaing dengan video berdurasi 15 detik?
Maka, di tengah menyiapkan perlengkapan kelas, saya pun sibuk menyiapkan satu hal yang tidak kalah penting — bagaimana cara menjemput kembali semangat belajar yang mungkin masih tertinggal di balik layar. Saya mulai membayangkan langkah-langkah sederhana: menyambut mereka dengan hangat, memberi ruang untuk mereka berbicara tentang dirinya atau hal apa yang paling dirindukan dari sekolah, atau sekadar mendengarkan mereka bercerita tentang hal-hal kecil.
Namun, masih ada keraguan. Apakah mereka akan antusias dengan hal kecil yang saya berikan? Apakah mereka akan bosan? Apakah mereka merasa nyaman di kelas ini? Tapi, saya percaya, anak-anak selalu butuh seseorang yang menyambut kehadiran mereka dengan tulus.

Silakan membaca keseluruhan artikel berupa gambar lebih besar di sini. Artikel tersebut dikunci dengan penutup:
Sebab, ketika anak merasa diterima, nyaman, dan aman, semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka akan belajar dengan kesadaran, merasa gembira, dan lebih memahami makna dari setiap proses yang dijalani.
Dengarlah anak berbicara…
Inilah catatan saya perihal tulisan Bu Ashlihatul:
- Saya sangat terkesan oleh tulisan tersebut karena mencerahkan, ditulis dengan ringan, dan kebetulan saya menyukai guru yang dapat dan suka menulis — guru pelajaran apa pun
- Saya sengaja tak mencari tahu siapa gerangan Bu Ashlihatul justru agar saya dapat membatasi amatan hanya dalam artikel ini, tanpa melihat jejak karyanya, mungkin di blog atau Facebook dan pelantar lain
- Poin anak akan dia persilakan bercerita apa saja di kelas ini penting, apalagi disertai alasan agar mereka merasa diterima dan dipahami
—
Waktu SD ada tugas kelas bernama bercakap-cakap. Anak berdiri di depan bercerita apa saja usai liburan. Bebas. Ada yang terus menunduk sambil bergumam, ada yang lancar bertutur seperti guru sekolah minggu, ada yang berbakat komedian tunggal.
Saya termasuk penutur yang buruk namun senang karena diberi kebebebasan dan guru mengapresiasi. Sebagai pembicara buruk, saya punya penyakit wagu: suka nyeletuk dalam kelas, semua tertawa. Guru juga. Ada juga sih guru yang marah, lalu menghukum saya. Sayang saya tak boleh marah terhadap guru pandir lalu menyuruhnya keluar dari kelas.
We don’t need no education
Seperti semua orang, saya mengalami banyak hal di SD. Ada yang menyakitkan dan menorehkan luka panjang hingga dewasa, namun akhirnya dia saya maafkan. Di sisi lain ada juga pengalaman yang membat senang dan nyaman.
Salah satu yang menyakitkan, namanya Pak Y, guru berhitung/matematika — ya, SD saya saat itu sudah mulai menerapkan matematika padahal SD lain belum — berlaku diskriminatif terhadap saya. Jika dia bertanya apakah ada yang belum paham, saya pun mengangkat jari, namun dia abaikan. Akhirnya saya tak tahan dan protes. Dia menjawab, “Karena yang bertanya kamu, Antyo.”
Dia juga guru menggambar. Selalu memberi nilai buruk untuk karya saya dengan alasan karya saya aneh, tak sesuai tugas. Tetapi ketika karya saya diajukan oleh anak lain akan dia katakan kreatif, bagus, unik.
Hal sama terulang saat SMP. Beberapa kali gambar saya yang sudah dinilai saya berikan kepada teman yang disayangi guru untuk diajukan ke guru yang tetap duduk di kursi. Ujung kertas yang ada nilainya ditutupi jempol oleh teman saya. Guru tak bermutu dan tak paham seni rupa itu memberi ponten 8. Padahal ponten saya yang tertutupi ibu jari itu 6.
Andai kata saat SD dan SMP sudah ada album The Wall Pink Floyd saya akan menyanyikan “Another Brick in the Wall:
We don’t need no education
We don’t need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teacher, leave them kids alone
Dalam klip video, pada bagian akhir anak-anak bernyanyi dengan mengubah “leave them” menjadi “leave us“.
Sekolah kehidupan di luar kelas
Tentu hal yang manis, mendidik, dan mengembangkan saya semasa SD juga banyak. Kepala Sekolah, Bu Yusminah, tahu bahwa pada kelas 6 menjelang ujian saya mulai bosan dalam kelas. Menguap terus, atau asyik menggambari buku tulis, atau berulah.
Bu Yus menyuruh saya keluar, menugasi saya menata dan mencatat buku baru untuk perpustakaan, atau membuka alat peraga IPA, fisika maupun biologi, untuk saya tata. Saat SD saya sudah membedah katak di atas tatakan berlilin dan mengamati segala benda, termasuk penampang irisan daun, dengan mikroskop.
Anak lain mungkin menganggap itu hukuman. Tetapi saya merasa dibebaskan dari terungku kejemuan. Apalagi Bu Yus mengatakan, “Daripada kamu mengganggu kelas, lebih baik kamu melakukan hal yang kamu sukai.” Kalau tak ada pekerjaan di luar kelas, saya boleh membaca apa saja di perpustakaan darurat hingga bel bubar sekolah.
Saya dulu suka IPA, apalagi jika pelajaran diberikan di luar kelas. Kadang menyusuri pinggir sungai. Lalu kebun di sekitarnya. Guru menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan.
Ada juga perintah yang nggak bener dari guru tetapi saya suka. Daripada saya tidur atau berulah, saya ditugasi mencetakkan pas foto dia di pecinan, memakai sepeda dia. Sungguh menggirangkan. Saya kembali ke sekolah menjelang bel bubar sekolah. Sepeda saya pakai ke mana saja. Melihat-lihat sekolah kehidupan, dari pemulung ambil makanan dari tempat sampah sampai orang berkelahi di pasar.
Saat kelas 6 saya mulai bosan karena semua buku pelajaran sudah saya lalap — kecuali berhitung dan matematika — bahan buku teks SMP milik mbakyu saya sudah saya baca, demikian pula catatan pelajaran biologinya. Perpustakaan keluarga dan aneka media cetak memperkaya pengetahuan saya saat bocah — termasuk majalah Aktuil milik kangmas sulung saya.

2 Comments
Di SMA, walaupun saya di jurusan IPA, tetapi nilai matematika, kimia dan fisika saya pas-pasan saja untuk ditulis dengan tinta biru. Saya bisa hafal rumus, tetapi saya tidak paham. Saya tidak berani menyalahkan gurunya karena yang nilainya cekak untuk pelajaran itu hanya segelintir saja. Ingin rasanya mengulang SMA lagi.
Waduh apalagi saya. Matematika, fisika, dan kimia mumet. Padahal matematika dan fisika sangat membantu untuk belajar filsafat, apalagi untuk menulis seputar saintek. Saya hanya dapat matematika dan sains semester pertama SMA, setelah itu penjurusan.
Dulu saya membayangkan kalau saja anak IPS bisa belajar arsitektur dan planologi 🙈🫣