Bagaimana nasib arsip foto media yang tamat?

Foto berita bukan hanya khazanah media tapi bangsa.

▒ Lama baca 2 menit

Kereta api di Palmerah 1973, Kartono Ryadi Kompas —Blogombal.com

Arsip foto berita adalah bagian dari saksi sejarah. Sebelas atau dua belas dari sepuluh penyuka sejarah pasti sepakat. Perbandingan yang sama berlaku untuk kaum melek media.

Foto di atas termuat dalam buku Indonesia dalam 250 Foto, terbitan Kompas pada 1975, untuk merayakan ulang tahun ke-10. Foto tersebut karya Kartono Ryadi.

Iwan Setiyawan, dalam artikel “Wajah Indonesia dalam Arsip 10 Tahun ‘Kompas'” (Kompas, Selasa 17/6/2025), memberi kapsi ringkas: “Kereta api melintas di Palmerah, Jakarta, difoto tahun 1973”.

Anda yang orang Jakarta silakan mencermati foto itu. Di luar kondisi kereta dan penumpang, jika Anda termasuk golongan tua pasti tahu bahwa di balik rumpun pohon pisang itu akhirnya menjadi jalan, demikian pula sisi kanan rel dalam foto.

Buku 10 Tahun Kompas —Blogombal.com
Foto: Kompas / Iwan Setyawan

Jalan itu, panjang sekali, sampai Pondok Indah, Jaksel, mulanya disebut Jalan Arteri Pondok Indah, selesai dibangun pada 1992. Area Percetakan Gramedia dan gedung lama Kompas dulu di samping lahan pengapit rel itu, belum disela oleh jalan.

Lantas ke mana arah ocehan saya? Langsung saja: Kompas masih hidup, arsip fotonya terkelola dengan baik. Tempo juga. Bagaimana dengan media berita yang setelah merunduk menyeret kaki dalam sandyakalaning media cetak dan juga media digital, akhirnya tumbang dan selesai?

Kompas membahas khazanah foto miliknya — Blogombal.com

Maksud saya bagaimana nasib arsip foto mereka? Tempo hari saya sudah menyoal hal itu untuk menanggapi penjualan kantor (beserta isinya ) bekas Gatra.

Bagaimana nasib arsip foto majalah Gatra — Blogombal.com

Kini bayangkan saja media yang pernah Anda sukai, pada zaman kertas maupun layar digital, dan mereka sudah tamat. Banyak foto mereka yang bersejarah. Editor pada 1980-an pernah mewawancarai Ibrahim Risjad, satu dari The Gang of Four, dengan foto eksklusif.

Pada dasawarsa yang sama, Jakarta Jakarta pernah menampilkan Michael Bambang Hartono di sampul dan dalam laporan utama. Risjad maupun Bambang bukanlah konglomerat yang mudah diwawancarai media.

Maaf, contoh itu terlalu jauh ke abad lalu. Foto wajah Bambang dari dekat akhirnya muncul sebagai atlet bridge di Beritagar menjelang Asian Games 2018.

Itu foto langka, sehingga semua media termasuk TV memanfaatkan foto itu, ada yang tanpa atribusi. Memang sih status Beritagar yang bernaung di salah satu BUMD (badan usaha milik Djarum) memungkinkan akses ke satu dari dua bos besar itu.

Kedekatan lembaga berita dengan pendiri induk mungkin memang memberi akses lebih. Ketika Republika secara sekuensial memotret B.J. Habibie sedang memegang dan menerbangkan pesawat kertas, hasilnya sungguh ikonis. Kisah tentang pemotretan pada 2016 ada di Republika (12/9/2019).

Foto ikonis B.J. Habibie dan pesawat kertas - Republika — Blogombal.com
Foto: Republika / Edwin Dwi Putranto

Foto tersebut dipakai banyak pihak, banyak yang tanpa kredit foto semestinya. Bedanya Republika dari Editor dan Beritagar adalah koran yang didirikan ICMI itu masih hidup secara daring. Habibie adalah pendiri ICMI.

Maka menjawab judul, nasib arsip foto media yang sudah almarhum kemungkinan ada di perusahaan penerbitnya. Kalau perusahaan sudah bubar, ke mana arsip fotonya?

Untuk arsip foto digital, dalam server internal maupun awan, relatif lebih mudah penyelamatannya — terlepas dari urusan legal — jika dibandingkan arsip produk fotografi analog, sejak foto, slides, film negatif, sampai contact prints. Arsip Jakarta Jakarta belum didigitalisasi, ada dalam sekian filing cabinets.

Jika kita becermin ke hari ini, apakah semua dan setiap media daring mengelola fotonya dengan baik? Maksud saya terkelola sebagai pustaka digital dengan metadata yang lengkap hingga ke kapsi, untuk foto-foto beresolusi tinggi.

Memang sih ada dua masalah. Pertama: soal klasik di banyak media itu untuk belanja peralatan fotografi sering alot antara redaksi dan perusahaan. Selain kamera dan terutama lensa berikut rombongannya, pengadaan sistem pustaka foto adalah biaya. Apalagi jika harus ada pegawai khusus untuk itu.

Kedua: maaf ini berbau syak wasangka, namun saya harap akan terbantahkan, sebagian redaksi kurang peduli pustaka foto yang genah karena kalau media tutup maka nasib arsip pun tak jelas.

Artinya ada kemungkinan foto asli nan penting terselip dalam belantara miliaran gambar. Yang ada hanyalah foto beresolusi rendah untuk situs yang dilihat di ponsel. Memang sih, AI bisa menolong memperbaiki kualitas gambar. Namun adakah batas autentisitas dan koreksi visual yang bisa menekuk sejarah?

4 Comments

Tagor Lassak Rabu 18 Juni 2025 ~ 11.32 Reply

Beberqpa media yg sdh bubar, negatif2 fotonya dibakar, sprti Mjlh Berita Mingguan Editor. Saya freelance di Editor thn ’87-’89. Kenapa tdk ditawarkan ke fotografer2nya? Itu kan harta saya, sejarah karir saya.
Contoh pemodal yg sok bikin media, tp ngga ngerti etika kerja media.

Pemilik Blog Rabu 18 Juni 2025 ~ 12.56 Reply

Hola Tagor.
Ini masalah di mana-mana. Masih untung arsip Life dibeli Google.
Saya gak tahu nasib arsip Ipphos sekarang.

Yusro Rabu 18 Juni 2025 ~ 11.32 Reply

Nah ini persoalan serius yang sering diabaikan pengelola media. Di EDITOR, setelah saham 100 persen dikuasai ALC (A Latief Corporation), semua arsip termasuk foto dan perangkat lunak sistem kearsipan foto jadi milik ALC. Saya terakhir masih sempat melihat lemari besi arsip foto yang besarnya 5x lemari Es jumbo itu di sebuah gudang di seputaran Manggarai.

Pemilik Blog Rabu 18 Juni 2025 ~ 12.54 Reply

Arsip foto dan barang lain dianggap sama. Kebetulan saya mau membuat susulan tulisan. Suwun Lik Yus. 🙏😇

Tinggalkan Balasan