
Dekorasi kotak rokok tingwé ini menginformasikan satu hal: kaset musik adalah ikon zaman. Semua orang tahu. Tak hanya kaset yang masih diproduksi oleh ekosistem indie, dan artis major label juga, karena aneka simbol visual kaset pun ada dalam pelbagai rupa, sejak dekorasi kaus hingga cangkang atau enclosure untuk SSD.
Generasi Z tumbuh dalam pengaliran audio dan video musik, namun endapan memori di benak menyimpan kaset milik orangtuanya dan opa oma. Citra kaset amatlah kuat. Ragam dan rentang harganya memberikan banyak pilihan — berikut equalizer untuk tape deck dan amplifier.

Apa karena kaset itu kecil, sesuai namanya yakni compact cassette, ada logonya, untuk membedakannya dari cartridge tape dan reel tape, sehingga mudah disimpan dan dikantongi, apalagi setelah muncul Walkman?


Tetapi aneh juga, Sony sebagai pelopor Walkman akhirnya bikin portable stereo compo seri FH. Penikmatan isi kaset dari personal individual dalam Walkman berpindah ke komunal dengan kotak suara yang disunggi. Dunia hip hop diwarnai compo pemutar kaset berdebum. PMPO menjadi mantra industri elektronik.
Yang kurang berjejak kuat adalah CD audio, padahal vinyl atau piringan hitam bertahan dan hidup lagi. Orang lebih tahu VCD dan kemudian DVD.

4 Comments
Sejak ekitar empat bulan lalu saya punya satu kaset kecil. Saya peroleh sebagai bonus saat beli tape recorder mini dari seorang kawan lama, penjual barang seken. Tape recorder dan kasetnya bermerek Sony.
Saya beli barang-barang itu karena kenangan terhadap pekerjaan saya sekian tahun sebagai reporter sejak sekitar 1995 atau lebih dari 30 tahun silam….
Saya pernah menulis mikrokaset, Januari 2019, saat blog nan gombal ini masih terkunci.
Sekarang wawancara bisa pake ponsel, disertai apps penerjemah
Di arsip Gombal itu harganya (seken) tinggi, baik kaset maupun tape recordernya. Tempo hari saya dapat dengan Rp 50.000, kaset dan tape recorder.
Wah mujur Njenengan 😅🙏