Bergegas di Depok dan persoalan cerita foto

Memotret sekadarnya itu mudah. Tapi bagaimana menceritakannya?

▒ Lama baca 2 menit

Foto berita bisnis properti di Depok - Kompas — Blogombal.com

Foto berita karya Hendra A. Setyawan ini biasa sekaligus menarik. Sebagai foto berita yang bukan merupakan ilustrasi untuk sebuah tulisan, gambar ini dapat dihasilkan oleh banyak orang, yang matanya jeli dan punya kesempatan, dengan ponsel. Maka saya menyebutnya biasa.

Bahwa cetak digital untuk gambar pagar proyek properti makin bagus, semua orang tahu — Hendra pernah memanfaatkan foto di dinding SD pada 2021. Dengan kemajuan rendering kompugrafis maka pagar properti makin cantik, apalagi dibantu AI, terkemas sebagai foto gigantis di ruang publik.

Dalam foto, seorang pria tampak bergegas, atau malah lari, yang bagi mata tak cermat dianggap sedang melintasi jalan di depan rumah. Ini pun biasa. Memang sih gambar pagar bisa disunting menjadi agak kabur untuk membatasi ruang ketajaman, namun bagi kalangan old skool itu bukan cara foto jurnalistik.

Judul foto berita di Kompas hari ini (Senin, 16/6/2025), yang memuat jepretan kemarin, adalah “Penawaran Rumah Baru”, dengan kapsi:

Iklan penawaran sebuah perumahan baru di kawasan Bojongsari, Depok, Jawa Barat (15/6/2025). Berdasarkan data Bank Indonesia per triwulan I-2025, penjualan rumah tipe menengah dan besar mengalami kontraksi masing-masing 35,76 persen dan 11,69 persen secara tahunan. Sementara itu, penjualan rumah tipe kecil tumbuh 21,75 persen secara tahunan, setelah terkontraksi 23,7 persen pada triwulan sebelumnya. Pembelian rumah melalui skema kredit pemilikan rumah (KPR) tercatat 70,68 persen dari total pembiayaan.

Lalu apanya yang menarik? Kapsi. Sebenarnya biasa juga, karena foto berita tunggal harus merupakan sebuah warta: jelas soal apa, bagaimana, di mana, dan seterusnya.

Kini makin jarang media menampilkan foto tunggal dengan teks lengkap. Dalam jurnalisme, menghadirkan konteks itu perlu. Lihat saja akun Antara Foto di Instagram — selain di situs webnya. Untuk komunikasi publik di luar cakupan media berita, akun pejabat juga menampilkan kapsi memberita, dikerjakan oleh staf.

Kembali ke foto berita, menulis seluruh teks kapsi belum tentu dihasilkan oleh sang pewarta foto. Dalam kasus foto pagar ini, saya mengandaikan boleh saja editor foto menyerahkan kapsi pada desk ekonomi dan bisnis.

Itu hal lumrah di media berita. Wajar dalam dunia kerja, ada pembagian tugas. Untuk foto lain diserahkan ke, misalnya, desk olahraga, kesehatan, dan seni, sesuai topik.

Lalu? Saya bicara soal dunia lama: blog. Kerepotan banyak bloger bukanlah menghasilkan gambar, karena ponsel dapat memotret, melainkan membuat cerita berdasarkan gambar.

Bahkan bloger yang pernah menjadi jurnalis pun belum tentu lancar membuat cerita dari foto jepretannya yang bukan selfie atau swafoto. Malah ada yang bilang tak punya ide. Padahal yang akan dilakukan cuma menuturkan suatu hal lain di luar foto, hanya memperlebar bualan berdasarkan jepretan. Ya, pos ini adalah contoh.

Memang sih, gambar yang baik itu mewakili seribu kata bahkan lebih. Tetapi kita tahu, storytelling, juga melalui teks, itu sebuah seni. Untuk kesekian kalinya saya mengutip kredo militer: tak ada prajurit terlatih, yang hanya prajurit yang selalu berlatih. Hal sama berlaku untuk atlet, penekun bela diri, musisi, dan entah apa lagi.

Apakah saya seorang penulis? Saya tak pernah menyebut diri berprofesi itu. Namun kadang orang lain menyebut saya penulis. Halah, lha wong cuma penulis blog sepi pembaca yang tak mendatangkan cuan saja kok. Bukan aib, tetapi juga bukan prestasi sih. Tidak minder maupun bangga. Biasa saja.

Foto Hendra A. Setyawan Kompas memanfaatkan backdrop di SD — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan