Kapan terakhir kali Anda nyeplus murbei?

Jangan-jangan Anda lebih terbiasa dengan stroberi, lupa murbei.

▒ Lama baca < 1 menit

Buah murbei di pinggir jalan depan polder Chandra Indah, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Tadi pagi di pinggir jalan mata saya menangkap buah kecil merah dalam kerimbunan daun. Aha! Itu buah murbei. Sudah puluhan tahun saya tak melihatnya apalagi mencicipinya. Sepanjang abad ke-21 ini saya tak melihat si mulberry yang entah kenapa menjadi murbei. Mur, selain baut, milik Ndoro Bèi yang menunggang jaran tèji.

Buah-buah itu belum ada yang menghitam. Masih merah dan jingga, belum matang. Kalau sudah menghitam rasanya lebih manis. Saya tak tahu apakah buah yang matang sudah ada yang memetiknya. Nama lain murbei adalah kertau, besaran, dan bebesaran.

Dulu waktu saya kecil banyak orang menanam murbei, tetapi di rumah saya tidak. Bahkan murbei dijual dalam kotak anyaman bambu seperti moci. Murbei juga menjadi pakan ulat sutra. Saya tak tahu kini di mana banyak perajin sutra sebagai bagian dari ekosistem wastra.

Saya menduga generasi saya dan yang lebih tua punya pengalaman dengan murbei. Antara lain memetik, langsung nyeplus. Lalu memetik lagi. Nggragas. Generasi yang lebih muda lebih tahu stroberi, apalagi banyak yang menjualnya. Makanan dan minuman rasa stroberi banyak ragamnya.

2 Comments

Yeni Setiawan Jumat 13 Juni 2025 ~ 22.18 Reply

Saya hampir setiap seminggu sekali nyeplus murbei karena di parkiran tempat kerja ada tanaman murbei.

Pemilik Blog Sabtu 14 Juni 2025 ~ 01.25 Reply

Wah mewah 👍👍👍👍💐

Tinggalkan Balasan