Mancing itu bagus, Nak

Saya tidak berani memancing ikan. Membersihkan ikan juga.

▒ Lama baca < 1 menit

Seorang bocah me mancing sendirian di polder Chandra Indah, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Tadi pukul 09.21 mentari sudah menyengat kulit. Di pagar polder dekat rumah, depan Alfamart, seorang anak tanpa baju, tak beralas kaki, duduk di atas galon cat yang ditengkurapkan, asyik mengaduk entah ganggang entah lumut hijau dalam ember untuk umpan. Belum ada lele yang dia peroleh.

Setahu saya hari ini belum libur kenaikan kelas. Namun bagi saya menarik, seorang bocah sendirian memancing. Dia mengandalkan bayangan batang pagar sebagai peneduh.

Saya kagum dan senang. Dia masih bisa menikmati kegiatan di alam. Tak hanya menunduk menatap layar ponsel. Zaman saya bocah belum ada ponsel. Namun saya tak pernah memancing.

Saat belum sekolah saya pernah mencoba memancing di belik sebelah kali, dengan gitik bambu dan umpan upa atau bulir nasi. Mata kail dari teman saya. Saya hanya beroleh yuyu atau ketam sungai. Sampai di rumah saya dimarahi Ibu karena tidak pamit, dan Ibu khawatir saya tercebur ke kali.

Kemudian beberapa kali saya ikut teman memancing, namun saya takut dan tak tega, hingga kini setelah tua: mencabut mata kail dari mulut ikan. Keasyikan mengambil hewan kali yang saya lakukan sampai kelas dua SD adalah merendam kaki di kali jernih, sebuah saluran irigasi di Kalisumbo, Salatiga, Jateng, lalu mengangkat kaki.

Kaki saya angkat setelah bèyès, atau anak yuyu, maupun yuyu dewasa, menggigit jari atau telapak. Lalu yuyu saya lepaskan, dengan mematahkan capit, darah luka saya keluar sebentar, akhirnya yuyu tersebut saya banting di atas batu.

Sadistis. Bombongan. Mengapa hingga kini saya tak berani membersihkan jeroan ikan, tak tega mencabut mata kail, tetapi bisa menyiksa yuyu? Saya dulu melakukannya supaya dianggap bocah lanang pemberani. Padahal sakit. Tak berpikir soal infeksi. Sungguh tak bermutu.

Seorang bocah me mancing sendirian di polder Chandra Indah, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan