
Sisa halaman rumah ini cukup untuk satu mobil. Mudah diakses, tinggal belok, karena tak berpagar. Namun di sana ada empat galon air minum, yang kosong, sebagai penghalang.
Saya tak menyalahkan pemilik rumah. Bahkan mendukungnya, padahal saya tak kenal. Posisi rumah itu di jalan yang kanan dan kirinya dipenuhi toko dan kios penjual. Pembelanja yang membawa mobil tergoda untuk memanfaatkan ruang siap pakai, tanpa peduli, tanpa permisi.

Dulu kantor saya di Kebayoran Baru, Jaksel, bertetangga dengan kafe untuk baby boomers. Lebih dari sekali ada ibu yang berbeda memarkir mobil di halaman kantor saya, sehingga kami tak dapat memarkir mobil.
Ketika ibu tersebut saya tegur dengan sopan, dia malah menjawab, “Terus saya harus parkir di mana? Di sini kan kosong?”
Saya katakan, “Ini kantor saya, Bu. Saya mau parkir.”
Ibu itu mendengus lalu bergumam, “Rewel amat sih.” Kemudian dia masuk ke mobil dan berlalu.

Pada peristiwa lain, seorang ibu sekeluar dari mobil menjawab serupa, harus parkir di mana, seakan-akan saya adalah juru parkir kafe. Namun dia dan ibu satunya berlalu menuju kafe sambil cekikikan dan saling cubit.
Setelah saya menaikkan volume suara, “Bu, jangan gitu dong”, barulah mereka memindahkan mobil, dengan ngedumel entah apa.
Perselisihan seputar parkir mobil masih akan terus terjadi, di mana pun dan kapan pun.

