
“Nafsu itu kalau tidak ditahan, kebablasan,” ujar Wapres K.H. Ma’ruf Amin saat memberikan tausiah Tarawih di Masjid Agung Awwal Fathul Mubien Kota Manado, Sulut, Rabu (3/4/2024, ¬ Kompas.id).
Bagi pembaca, dalam tuturan berikut terdapat soal teks dan konteks. Teks itu apa yang Kiai Ma’ruf katakan. Adapun konteks itu tafsir orang lain dalam menempatkan ucapan Pak Kiai.
“Syekh Nawawi al-Bantani mengatakan, syahwat yang paling sulit diatasi, (sulit) diobati adalah cinta kepada kepemimpinan. Karena itu, orang berebut menjadi pemimpin, baik pemimpin negara, pemimpin ormas, pemimpin apa saja,” ujar Kiai Ma’ruf.
Pesan tersebut universal, tak hanya berlaku untuk Muslim, di segala zaman dan keadaan. Namun bisa juga ada orang lain yang menghubungkannya dengan situasi kondisi aktual saat ini, yang antara lain sedang diperdebatkan di Mahkamah Konstitusi, menyangkut keabsahan Pilpres 2024, sampai nanti ketika mahkamah memutuskan.

Dua hari sebelumnya, di Jakarta, Kiai Ma’ruf mengatakan, Ramadan kali ini adalah yang terakhir dia jalani selaku wapres. “Banyak kira kegiatan lain saya tentu akan kembali ke habitat saya lagi, dan saya tentu tidak ingin tidak mungkin melepaskan diri dari kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan terutama keagamaan karena itu bagian dari kehidupan saya,” ucapnya (¬ Republika)

One Comment
saya baru ingat bahwa beliau adalah wapres 😅