Tausiah Ramadan Ma’ruf Amin ihwal kekuasaan

Kata Pak Kiai, nafsu untuk menjadi pemimpin itu sulit diobati. Sebuah pesan universal untuk seisi alam semesta.

▒ Lama baca < 1 menit

Tausiah Ramadan Ma'ruf Amin ihwal kekuasaan

“Nafsu itu kalau tidak ditahan, kebablasan,” ujar Wapres K.H. Ma’ruf Amin saat memberikan tausiah Tarawih di Masjid Agung Awwal Fathul Mubien Kota Manado, Sulut, Rabu (3/4/2024, ¬ Kompas.id).

Bagi pembaca, dalam tuturan berikut terdapat soal teks dan konteks. Teks itu apa yang Kiai Ma’ruf katakan. Adapun konteks itu tafsir orang lain dalam menempatkan ucapan Pak Kiai.

“Syekh Nawawi al-Bantani mengatakan, syahwat yang paling sulit diatasi, (sulit) diobati adalah cinta kepada kepemimpinan. Karena itu, orang berebut menjadi pemimpin, baik pemimpin negara, pemimpin ormas, pemimpin apa saja,” ujar Kiai Ma’ruf.

Pesan tersebut universal, tak hanya berlaku untuk Muslim, di segala zaman dan keadaan. Namun bisa juga ada orang lain yang menghubungkannya dengan situasi kondisi aktual saat ini, yang antara lain sedang diperdebatkan di Mahkamah Konstitusi, menyangkut keabsahan Pilpres 2024, sampai nanti ketika mahkamah memutuskan.

Tausiah Ramadan Ma'ruf Amin ihwal kekuasaan

Dua hari sebelumnya, di Jakarta, Kiai Ma’ruf mengatakan, Ramadan kali ini adalah yang terakhir dia jalani selaku wapres. “Banyak kira kegiatan lain saya tentu akan kembali ke habitat saya lagi, dan saya tentu tidak ingin tidak mungkin melepaskan diri dari kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan terutama keagamaan karena itu bagian dari kehidupan saya,” ucapnya (¬ Republika)

One Comment

Zam Kamis 18 April 2024 ~ 03.15 Reply

saya baru ingat bahwa beliau adalah wapres 😅

Tinggalkan Balasan