
Surat pembaca Kompas ini sudah saya baca tadi malam (Ahad, 12/7/2026) di laman web, lalu pagi ini (Senin, 13/7/2026) saya lihat muncul di versi koran. Judul versi web dan aplikasi adalah “‘Redaksi Yth’: Harga Satu Nyawa Rp 50 Juta“, dengan ringkasan:
“Benarlah harga nyawa satu orang WNI sipil setara Rp 50 juta saja? Murah atau mahal terserah pembaca.”
Betul, surat itu menyoal meninggalnya peserta latsarmil KDMP. Kliping surat saya angkut ke dalam pos ini, di bagian bawah.

Lalu apanya yang menarik?
- Sebagai protes masyarakat, kematian peserta latsarmil itu bukan isu baru, di media sosial (medsos) sudah berseliweran tanggapan negatif
- Kompas tak mencuplik konten medsos melainkan memanfaatkan suara pembaca, artinya secara formal itu bukan suara redaksi
- Opini dalam surat pembaca, yang dalam versi cetak ada di rubrik Redaksi Yth. sama dengan opini berupa artikel dari orang luar, demikian pula dalam rubrik Kolom — hanya berbeda bobot
- Selain serangkaian berita dengan data, redaksi Kompas sudah beropini dalam Tajuk Rencana: “Nilai Nyawa Manusia” (30/6/2026)
- Excerpt, atau ringkasan sebagai intro setelah judul dan sebelum teks badan dalam media digital, berbunyi, “Satu nyawa sangat bernilai, apalagi lima. Tak perlu ragu mengevaluasi kegiatan yang merenggut nyawa. Mereka adalah anak atau orangtua di keluarga, sama seperti kita.“
Di sini saya tak membahas KDMP, melainkan tajuk rencana, atau apalah namanya pokoknya opini resmi redaksi di media berita, dan opini pembaca.
Tentang relevansi tajuk rencana dalam bisnis media berita sudah saya bahas dalam “Tajuk rencana, warisan media kertas itu, masihkah menarik?” (20/8/2025). Dalam pos tersebut saya tulis:
Tajuk rencana, sebagai istilah di kalangan media berita lawas, berisi opini redaksi tentang suatu masalah. Istilah lain yang lebih diterima adalah editorial, seperti di Tempo. Beda media beda opini, sekaligus menunjukkan posisi masing-masing penerbit, terutama terhadap pemerintah dalam isu tertentu.
Kemudian saya berpendapat, “Lalu kini dalam media berita digital, terutama yang dibaca melalui ponsel, masih menarikkah tajuk rencana dan sebangsanya? Saya menduga tidak.” Silakan baca lanjutan tuturan dalam pos termaksud. Saya tak akan mengulanginya di sini.
Tentang surat pembaca? Itu juga warisan lama media cetak. Keterbatasan ruang muat di media cetak sekaligus tata letak grafis koran dan majalah memungkinkan hal itu. Dalam media digital di web, yang tanpa batas ruang pemuatan teks maupun unsur visual, justru ada kecenderungan semua konten setara, kecuali ada perlakuan khusus dalam tata letak.
Dengan pembacaan laman indeks yang secara default ditata kronologis, dengan penyortiran masinal descending (konten terbaru di atas), maka berita sela (breaking news) dan info khasiat rebusan daun salam tampak setara, cuma soal siapa yang muncul lebih dahulu.
Kalau di laman indeks Detik, misalnya, yang dibesut tidak kering, pembaca bisa memilih kanal atau rubrik dan tanggal terbit. Namun tata letak laman web memang berbeda dari cetak, padahal mayoritas orang membaca berita versi web, terutama versi ponsel, dan umpan di medsos.
Di koran, tata letak menggiring pembaca menggunakan sudut pandang aerial. Saya dalam pos “Mengapa foto berita tunggal di koran tampak menonjol?” (19/11/2024) menyebutkan dalam excerpt:
Tata letak koran itu seperti foto blok kota dari udara. Terlihat keseluruhan secara sepintas, namun sekaligus tampak objek apa saja yang menonjol.
Tidak, tidak. Saya tidak mengajak Anda membelenggu diri dalam romantisisme nostalgis media cetak. Saya hanya memberi pengantar mengapa surat pembaca di koran bisa menarik, lebih mudah terlihat, tak terselip di antara rentetan konten yang tampak setara. Solusi teknis tetap ada: surat pembaca di laman web, misalnya ada, ditaruh sebagai sticky. Tetap nongol di atas atau kaveling lain sesuai keperluan.
Memang, tata letak laman web bisa memberikan tampilan ala koran. Misalnya tema visual Paperzilla untuk blog. Di layar ponsel, tablet, dan terutama desktop ada rasa koran, terutama di halaman depan. Dalam irama kekinian bisa pas dengan gawai e-ink dan ponsel yang disetel abu-abu.
Akan tetapi tema WordPress buatan 2018 itu berat. Kalau butuh waktu terlalu lama untuk mengakses hanya menyumbang bounce rate. Orang mengeklik namun enggan baca. Tidak bagus bagi pengiklan. Tetapi tetap bagus bagi bots mesin AI untuk menambang konten.
Lalu, apakah surat pembaca yang ditampilkan sebagai konten dalam media daring, namun bukan berupa hak jawab sumber berita, masih menarik? Menurut saya tidak.
Dalam bentang alam medsos, reaksi dan respons pembaca dapat berada di pelantar yang berbeda. Reaksi itu spontan, minim pengendapan, kadang cukup diwakili emotikon. Sedangkan respons, secara tekstual verbal, cenderung argumentatif.
Lalu bukankah di akhir pos laman berita ada ruang komentar? Dari sisi keterikatan (engagement) pembaca sebagai konsumen informasi dengan redaksi mungkin bagus, bahkan misalnya hanya berupa emotikon jempol dan tawa, atau tombol suka dan tak suka. Namun secara kasuistis saya tak tahu apakah reaksi dan respons di media asal akan sama tinggi dengan yang di media ekstensi untuk amplifikasi, misalnya di X, Instagram, dan YouTube.
Walakin demikian, sebagai arsip media bagi publik, surat pembaca tetap penting, karena mencerminkan cara media mengangkut serpihan opini dan keluhan khalayak bukan sebagai kutipan dari narasumber dalam berita.
¬ Kliping ⤵

—

—
.webp)
