Tajuk rencana, warisan media kertas itu, masihkah menarik?

Lanskap media berita sudah berubah. Tulisan opini redaksi dikalahkan obrolan video.

▒ Lama baca 2 menit

Tajuk rencana Kompas tentang Setya Novanto dan kesungguhan pemerintah memberanrs korupsi — Blogombal.com

Ya, saya adalah wong lawas. Masa kecil saya mendapatkan informasi dari kertas. Setelah dewasa, dan mengenal internet, maka kertas dan layar elektronik saling melengkapi.

Sore tadi ketika membaca koran Kompas versi layar, saya sempatkan membaca Tajuk Rencana — nama yang arkais, terasa kurang bertaut dengan konsumen informasi hari ini. Saya masih tertarik tajuk rencana, namun tak setia mengikutinya.

Tajuk rencana, sebagai istilah di kalangan media berita lawas, berisi opini redaksi tentang suatu masalah. Istilah lain yang lebih diterima adalah editorial, seperti di Tempo. Beda media beda opini, sekaligus menunjukkan posisi masing-masing penerbit, terutama terhadap pemerintah dalam isu tertentu.

Tata letak media cetak mempermudah pembaca menemukan tajuk rencana. Itu berbeda dari konsumen informasi yang terbiasa memanfaatkan laman indeks non-kategorikal.

Tajuk rencana Kompas tentang Setya Novanto dan kesungguhan pemerintah memberanrs korupsi — Blogombal.com

Sebenarnya opini redaksi, atau kita sopankan sebagai sikap redaksi secara opinionatif, tak hanya muncul dalam tajuk rencana. Penempatan berita dan artikel di halaman kertas, dengan siasat grafis, sudah menunjukkan cara redaksi memosisikan diri. Hal itu ditambah gaya bahasa dalam judul dan isi.

Abstrak? Pada masa Orde Baru yang represif, jika ada koran menempatkan berita Presiden Soeharto di halaman dalam, kecil pula, berarti mencari masalah. Harus siap ditelepon pejabat yang menanyakan alasan penempatan berita. Setelah reformasi, dan koran masih bernapas, sesuka redaksi akan memuat berita kepresidenan di mana.

Lalu kini dalam media berita digital, terutama yang dibaca melalui ponsel, masih menarikkah tajuk rencana dan sebangsanya? Saya menduga tidak. Bahkan tak semua media berita punya tajuk rencana. Mungkin dari sisi trafik tak mengesankan, dan dari sisi redaksi yang mengutamakan berita sela (breaking news) akan kontraproduktif. Lebih menarik meminjam mulut narasumber untuk beropini. Atau memuat tulisan orang di luar redaksi. Ada juga jalan pintas: mengambil konten dari media sosial, misalnya Instagram, dengan judul generik “Begini tanggapan si itu soal anu…”.

Kemudian platform media sosial, dengan sajian video, mengubah semuanya. Redaksi membuat acara bincang dengan narasumber, jika perlu membuat debat. Video bincang maupun monolog lebih menarik bagi konsumen informasi, namun bagi sebagian lainnya terasa menghabiskan waktu. Sepuluh menit menonton video dan sepuluh menit membaca teks bisa berbeda serapan informasi. Memang sih tergantung bagaimana orang berbicara dan menulis.

Dalam video hasil perekaman, bukan tayangan langsung, masih dimungkinkan penyuntingan, setidaknya dalam pembabakan potongan (chapter) dan teks sebagai subtitel karena closed caption generatif tak memuaskam, demikian pula transkripsi oleh mesin. Kalau transkripsi bagus, maka sebagian orang membaca teks tersebut, lalu jika ada yang menarik akan melihat bagian video sesuai penanda waktu.

Masalahnya, misalnya media berita masih memiliki tajuk rencana, apakah konten dengan topik tertentu mudah dicari? Jalan tengah ala Kompas.id adalah menggabungkan artikel, surat pembaca, kolom, dan tajuk rencana dalam satu wadah bernama Opini. Kabar bagusnya, akal imitasi membantu pengendusan.

Sebenarnya ada yang lebih mendasar: masih perlukah media beropini eksplisit ala tajuk rencana, padahal Tom Nichols sudah membuat aneka satire tentang matinya kepakaran?

Opini mencerahkan juga ada di media sosial, termasuk pelantar dengan konten artikel dari pengguna. Opini bukan lagi merupakan oligopoli kolumnis era media cetak, yang sehebat-hebatnya mereka tetap bergantung editor.

Sebenarnya dengan membaca dan menonton sejumlah laporan khusus yang sebagai multimedia terkemas kaya, termasuk visualisasi data secara interaktif, khalayak bisa merasakan opini setiap media dan bagaimana setiap media memosisikan diri.

2 Comments

Rudy Kamis 21 Agustus 2025 ~ 09.36 Reply

Tajuk rencana hari ini saya baca, soal perdagangan pakaian bekas. Sebenarnya tidak diperbolehkan, ada peraturan menterinya. Tapi namanya Indonesia ya ada saja jalannya. Celakanya lagi, Indonesia mengalami defisit dalam perdagangan terlarang ini.

Pemilik Blog Kamis 21 Agustus 2025 ~ 13.03 Reply

Banyak yang menarik dari tajuk rencana Kompas karena memberikan perspektif kepada pembaca.

Tinggalkan Balasan