
Terlalu banyak perkembangan di luar rumah sehingga saya tertinggal. Misalnya ini, otomat cuci helm. Saya baru tahu padahal ada di kelurahan saya, sekira 1,9 kilometer dari rumah. Dunia terus berubah, saya juga berubah tetapi mundur. Di area lain otomat macam ini juga ada, berlainan jenama.
Zaman saya masih membutuhkan helm motor, likuran tahun silam, layanan cuci helm belum ada. Yang dapat saya lakukan untuk membersihkan adalah membalik busa sebisanya lalu saya jemur. Untuk mengenakan helm saya melapisi kepala dengan sapu tangan handuk maupun bandana yang dapat segera saya cuci. Sampai kini kalau naik ojek, kepala saya lapisi topi — bucket hat lebih sip.

Setelah agak rajin bersepeda, saya menggunakan kupluk khusus yang mudah kering. Bagian dalam helm juga saya jemur. Namun sudah setahun lebih saya berhenti bersepeda, tunggangan model lipat itu saya hibahkan berikut kunci, lampu sen, lampu rem, dan helm. Sayang saat saya masih berkereta angin belum ada otomat cuci helm.
Untunglah sekarang ada otomat itu padahal saya tak dapat memanfaatkannya. Tadi saya sebut bahwa saya tertinggal. Namun saya tidak takjub melihat biaya cuci yang Rp9.900, yang kalau membayar tunai harus ada kembalian Rp100.

Ada lebih dari seorang teman sebaya yang tak paham ketika Juni lalu ada bayar ongkos angkutan umum Jakarta Rp1. Mereka tak habis pikir, apa masih ada koin Rp1, misalnya pun masih ada apakah laku. Masih mendingan saya, 12 tahun silam berbelanja daring membeli rak handuk Rp100, bukan COD, di Rakuten. Saya pernah membeli pemotong kuku Rp10 dari Bukalapak. Teman-teman saya yang bingung tadi mungkin malah tak heran karena tidak tahu dan tak peduli.
¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan
